Teknologi, Tren, Pilihan dan Sasaran Organisasional untuk Tahun 2018 - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

Teknologi, Tren, Pilihan dan Sasaran Organisasional untuk Tahun 2018

Vice President Haworth International, Glen Foster, berbagi pendapat tentang perubahan-perubahan yang terjadi di lanskap profesional kontemporere kita.



BY Editor

19 September, 2017


Saya baru saja menghadiri konferensi CoreNet di Melbourne minggu lalu. Acara ini terasa menyegarkan terutama karena kebanyakan dari presenternya bukan tipe korporat real estate tradisional. Para raksasa entrepreneur ini mengilustrasikan perubahan-perubahan luar biasa yand terjadi di dunia melalui teknologi, sains, yang kemudian berpengaruh pada lingkungan kerja dan bagaimana orang-orang bekerja di masa depan.

Kita telah mencerna sejumlah tren tempat kerja untuk waktu yang lama, sebut saja diantaranya dampak  pergantian generasi, dampak teknologi, dampak pendistribusian tenaga kerja, meningkatkan kompetisi untuk mendapatkan talenta dan tujuan organisasional dari peningkatan kolaborasi sebagai keuntungan bersaing.

.

Tenaga kerja saat ini didominasi oleh para millennial [1], sebuah fakta yang terbukti hampir tiap minggu ketika saya melihat CV para pekerja yang baru lahir ketika saya sudah lulus SMU.

Para gremlin generasi baru ini sudah membuat takut para korporet real estate profesional dan para CEO dengan cara kerja mereka yang berbeda, cara mereka berkomunikasi, penggunaan teknologi dan mobilitas lintas organisasi mereka yang tinggi.

Mereka memberi dampat yang positif dan mendalam terhadap cara kita bekerja.

.

Dampak teknologikal terhadap lingkungan kerja tidah terbatas pada menjamurnya laptop dan gadget smart aja, namun juga termasuk cloud computing dan aplikasi0aplikasi untuk menciptakan kesempatan untuk kolaborasi global. "Kolaborasi yang cair adalah esensi dari kolaborasi yang direimajinasi oleh teknologi dan konektivitas, yang mampu melewati batas waktu, ruang dan tempat."[2] Hal ini menjadikan organisasi-organisasi mampu untuk menjaring talenta terbaik untuk bekerja sama dengan efektif tanpa terkekang jarak atau perbedaan zona waktu.

 

Penggunaan teknologilah yang telah mengeliminasi pekerjaan yang beresiko atau tidak memerlukan keahlian, yang kemudian membebeaskan tenaga kerja untuk mengerjakan pekerjaan yang baru saja tercipta (atau yang akan tercipta di masa depan). Kita sudah menyaksikan disrupsi yang terjadi di industri-industri seperti transport, travel, entertainment yang terus terjadi karena adanya drones dan alat-alat lainnya. Revolusi industri keempat akan menghilangkan pekerjaan-pekerjaan yang beresiko dan menghadirkan kesempatan untuk peningkatan ekonomi kreatif. Inovasi-inovasi yang terjadi akan berdampak pada jasa antar, periklanan, jasa darurat dan entertainment, dan arus perubahan ini akan berlanjut ke perencanaan kota dan real estate korporet.[3]

Para profesional real estate korporet tengah menciptakan 'amrt office' untuk meningkatkan pengalaman bekerja yang akan meningkatkan produktivitas, menarik dan mempertahankan talenta, mendukung kesehatan dan mempromosikan nilai-nilai perusahaan. Bangunan smart juga digunakan untuk ruang yang efektid dan fleksibel, yang akan menekan biaya dan dampak lingkungan. [4] Para organisasi perlu mengukur kesuksesan ruang mereka, menginkorporasikan return on investment di smart office sebagai keuntungan kompetitif dan nilai shareholder. Perjalanan untuk mengaktivasi lingkungan kerja akan memberdayakan pegawai untuk meningkatkan keterlibatan yang kemudian akan berdampak kepada peningkatan efeltivitas, loyalti, kreativitas dan kepuasan.

Pada saat yang bersamaan, para perencana kota tengah membangun 'smart precinct', yaitu distrik mixed-used dengan kemampuan digital yang mengkombinasikan teknologi teranyar dengan strategi-strategi untuk mendukung dan mengkatalisasi ekonomi yand disetir oleh teknologi, yang bertujuan untuk mempersatukan minat dan grup sosial yang berbeda.[5] Daerah-daerah ini menyimpan para pekerja untuk membuat mereka menjadi lebih bernilai dan produktif. Pemerintah bekerja dengan prinsip 'jika kita bangun, mereka akan datang'. Dan menetap.

Kontrasnya, 'gig economy' mempromosikan ide bahwa seseoranh dapat memilih untuk keluar dari lingkungan kerja tradisional untuk memilih antar kerja atau hidup. Perubahan cara kerja dan tipe perkerjaan yang ada memberikan kesempatan-kesempatan baru untuk para pegawai untuk semakin berperan sebagai kontraktor atau konsultan yang kerja berdasarkan proyek atau jangka pendek ketika beban kerja perusahaan sedang memuncak. Ada keuntungan di kedua sisi yang membuat perusahaan untuk berkembang saat sedang sibuk dan memberikan fleksibilitas bagi para pegawai yang menghargai keseimbangan hidup yang berbeda.

Kompetisi untuk menjaring talenta bukanlah fenomena baru. Apa yang kita alami saat ini adalah siklus kerja yang lebih cepat dan penciptaan pekerjaan melalui perubahan teknologi dan meningkatnya kesadaran akan ketersediaan kesempatan melalui teknologi. Seorang teman mengeluh pada saya karena ketika terakhir kali ia mencari kerja, ia tinggal membentang koran Sabtu pagi dan menandai lowongan yang cocok. Paradigma pencarian dan penempatan telah berubah dan telah mereduksi loyalti para pegawai untuk menetap di satu pekerjaan yang tidak menarik atau tidak membuat mereka berkembang sesuai dengan harapan mereka.

.

Organisasi dewasa ini berambisi untuk menjadi lebih smart, berinovasi dan menghimpun kreativitas kolektif. Pekerjaan kreatif berkaitan dengan penciptaan ide-ide orisinal [6] dan hal ini memerlukan kita untuk menghimpun orang untuk berkolaborasi.

Desain tempat kerja harus dapat mengakomodasi kebutuhan untuk berpikir dan kreativitas. Kita sudah melihat bahwa setting tempat kerja harus berubah untuk mengakomosari para klien yang sudah memulai langkah ke arah lingkungan kerja yang lebih gesit.

.

Dalam merancang lingkungan kerja masa depan, sebuah organisasi perlu memahami bahwa ini bukanlah 'one size fits all' dan bahwa spektrum dari agile dan variasi setting tempat kerja (baik itu intra perusahaan atau interperusahaan) berakibat terhadap pilihan bagaimana dan dimana kita mau berkerja. Paradigma pilihan baru ini seringkali dituangkan melalui tujuan organisasi, yaitu efisiensi dan optimisasi ruang, namun tujuan organisasional ini juga mengakui perubahan yang terjadi di sisi tenaga kerja dan tipe-tipe perilaku yang memerlukan dukungan.

Tren lain berkaitan dengan kesehatan dan user experience sangat kritikal dalam memaksimalkan keterlibatan. Ini adalah cakrawala baru dalam optimisasi performa dan retensi pegawai. Pengintegrasian strategi makanan dan minuman, dan penyediaan ruang-ruang sosial, telah menjadi elemen kunci untuk desain tempat kerja yang sukses. Bangunan-bangunan yang segat adalag ruang-ruang yang mempengaruhi perilaku dan kesehatan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Peningkatan faktor-faktor seperti kualitas udara, akustik atau ergonomi dapat mempengaruhi kesehatan perorangan dan produktivitasnya. [7]

Lebih jauh lagi, karya seni di tempat kerja baru-baru ini digadang-gadang sebagai elemen penting untuk tempat kerja yang baik. Penelitian telah membuktikan bagwa karya seni membantu bisnis untuk mengatasi tantangan seperti mengurangi stress, meningkatkan kreativitas dan memberikan keberanian untuk mengekspresikan pendapat. [8] Kembali lagi ke teknologi, app untuk tempat kerja menciptakan tempat kerjad dengan performa tinggi dengan memberikan informasi organisasional, way-finding, reservasi tempat dan menjadikan keahlian spesialis lebih mudah ditemukan. Alat-alat ini memberikan sense of community yang lebih kuat dan mendoroing terjadinya inovasi. .[9]

.

Tidak ada situasi yang sempurna, kita semua selalu dalam mode bereksperimen dan berevolusi.

Tantangan yang saya lihat adalah konflik antara memberikan pegawai pilihan dimana mereka ingin duduk versus tujuan organisasional yang mendukung pergerakan di dalam organisasi tersebut untuk menciptakan kolaborasi dan keterlibatan.

.

Pergerakan yang dilakukan banyak organisasi untuk menciptakan kampus versus strategi real estate yang ditetapkan telah menantang paradigma retensi yang mengatakan bahwa pegawai akan menetap hanya jika meteka memiliki pilihan untuk bekerja dari lokasi yang lebih nyaman seperti rumah atau co-working space.

Saya memilik pandangan bahwa nilai dari energi kolektif dan kolaborasi pekerja melalui kampus maupun strategi pembagian ruang yang ditetapkan dari atas haruslah menjadi stratego utama tempat kerja yang didukung oleh penggunaan situasional oleh ruang pihak ketiga untuk meningkatkan fleksibilitas dan meningkatkan utilitas dengan outsource ruang-ruang dengan tingkat penggunaan yang rendah seperti auditorium, boardroom dan ruang proyek. Bangunan-bangunan yang teraktivasi dengan baik, seperti The Porter di Sydney dan distrik smart seperti Hudson Yards di NYC dapat menghimpun tim kerja sembari mamberikan lingkungan kerja dan setting yang beragam. Variasi tempat kerja yang terbuka maupun tertutup dan solusi akustik yang tersebar di lantai kantor (dan di distriknya) menjawab tantangan untuk bekerja tanpa distraksi; sesuatu yang seringkali dikeluhkan di lingkungan yang agile.

Kita sedang berada di zaman yang menyenangkan untuk tempat kerja. Nilai proposisi 'Organic Spaces' dari Haworth sangatlah relevan. Fokus kami akan kebutuhan-kebutuhan individual klien kami menjadikan kami partner yang unik. Para klien ditantang dengan banyak tekanan internal (organisasional) dan eksternal (kompetitif) ketika mengambil keputusan untuk real-estate, dan Haworth senantiasa berfokus untuk menjadi penasehat dalam dialog yang akan berdampak pada orang-orang dan tempat-tempat kerja.

.
[1] Worktech Academy, 2017
[2] Worktech Academy, 2017
[3] Dr Catherine Ball, CoreNet Melbourne 2017
[4] Worktech Academy, 2017
[5] Worktech Academy, 2017
[6] Worktech Academy 2017
[7] Worktech Academy 2017
[8] Business Committee for the Arts and the International Association for Professional Art Advisors
[9] Worktech Academy 2017