Doo-Wop dari Louis Poulsen: Aplikasi Kriya yang Abadi - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

Doo-Wop dari Louis Poulsen: Aplikasi Kriya yang Abadi

Formula desain humanis yang pertama membuat lampu Doo-Wop terkenal di tahun 50an bersinar lebih terang dalam versi teranyar yang terbuat dari kuningan, tembaga dan baja nirkarat.



BY Editor

19 October, 2017


Ada banyak merk dan desainer yang mengklaim bahwa karya mereka berfokus pada pengalaman manusia. Namun hanya sedikit yang benear-benar mempraktekannya. Salah satunya adalah Louis Poulsen, dan brand ini membuktikannya lewat koleksinya.

Sejak debutnya di tahun 20an, Louis Poulsen telah teguh memegang visinya untuk memberikan bentuk pada cahaya di tempat yang tepat pada waktu yang tepat pula. Seiring bergantinya tahun, visi mulia ini telah diterjemahkan dengan indah menjadi satu set factor praktis seperti adaptabilitas dan fleksibilitas menjadi salah satu koleksi lampu yang paling menarik di industry desain, termasuk diantaranya PH karya Poul Henningsen, patera karya Øivind Slaatto dan baru-baru ini, Yuh karya Gamfratesi.

Namun Louis Poulsen bukan tentang lampu indah dan desainer ternama semata. Terdapat hal-hal lain yang memberikan arti pada brand ini, dan salah satunya adalah keluarga pengrahin di Vejen, Jutland yang memproduksi semua produk lampunya dengan tangan-tangan mereka.

Salah satu karya teranyar yang dihasilkan oleh pabrik canggih di Vejen ini adalah Doo-Wop, lampu gantung dari tahun 50an yang diproduksi kembali lima tahun yang lalu. Didesain dengan kolaborasi dengan Danish Navy Buildings Department, Do-Woop, yang juga dikenal dengan nama kesayangan Navy Pendant, dipasang di banyak bangunan institusional seperti kantin dan kantor, dan bahkan menuai pujian dari kalangan luar militr untuk kegunaan dan kelebihannya yang unik.

Tiap reflector di Doo-Wop memiliki fungsi yang berbeda – reflekstor putih yang berbentuk konikal di bagian dalam mengarahkan cahaya ke bawah dengan lembut sementara reflector bagian luar yang sculptural mengarahkan dan menebarkan cahaya ke atas dan bawah. Namun mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk menciptakan ambiens yang menyenangkan untuk orang-orang dan indera perasa kita.

Bentuk Doo-Wop yang khas menajdi terkenal di tahun 40an dan 50an. Kurva-kurva sensualnya mengingatkan kita akan siluet koleksi New Look dari Chrisrian Dior, yang diluncurkan setelah perang dunia tahun 1947. Koleksi ini termasuk jaket Bar – mantel untuk pagi hari yang dikencangkan di pinggang – dan rok rempel yang melebar. Dan sebagaimana koleksi New Look telah mengaksentuasi bentuk tubuh wanita, lampu Doo-Wop meningkatkan pengalaman pencahayaan di ruangan tempat ia berada, membuat lampu ini sangat mecolok untuk alas an yang baik.

Model-model Doo-Wop yang baru mendapat nilai lebih untuk daya tarik yang elegan, yang terlahir dari reflector luar yang mengkilap yang dibentuk dari lembaran kuningan, tembaga dan baja nirkarat yang solid. Dan sesuai dengan pendekatan desain Louis Poulsen yang humanis, tiap kap lampu diproses dengan tangan di Vejen sebelum ditekuk sedikit pada ujung-ujungnya untuk mencapai volume optikalnya yng khas.

Untuk lebih memberikan karakter, permukaan kuningan, tembaga dan baja nirkarat ini sengaja tidak dilapisi. Hal ini akan menghadirkan patina seiring waktu sehingga tidak akan adala dua lampu yang persis sama.

Desain yang baik akan menjadi abadi, terutama ketika ia berfokus pada memanusiakan, melalui tangan manusia, ruang-ruang tempatnya berada. Dan hal ini, persisnya, adalah fomula kesayangan yang telah membuat lamp-lampu Louis Poulsen seperti Doo-Wop relevan dan diinginkan, bahkan berdekade-dekade setelah ia pertama diluncurkan.