Kelihaian Louis Poulsen dalam Membentuk Cahaya - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

Kelihaian Louis Poulsen dalam Membentuk Cahaya

Desain yang inventif, bertujuan dan indah menjadi abadi ketika didasari oleh pengalaman manusia. Ini adalah prinsip yang telah dibuktikan oleh Louis Poulsen sejak tahun 1920an.

  • PH50

  • Gambar kerja lampu PH dari arsip Louis Poulsen

  • PH5

  • Gambar kerja lampu PH dari arsip Louis Poulsen

  • Poul Henningsen

  • PH5

  • PG Artichoke

  • Øivind Slaatto

  • Patera



BY Editor

23 August, 2017


Letakkan smartphone Anda, padamkan lampu, and coba bayangkan Anda tengah berada di sebuah ruangan di masa sebelum listrik tersedia untuk rumah tinggal. Ini adalah zaman sekitar tahun 1880, zaman ketika sumber energi transformasional mulai merambah area domestik, zaman dimana Thomas Edison menciptakan bohlam pijar yang tahan lama.

Bertahun-tahun lamanya, cahaya yang ada di kamar pra-listrik ini kemungkinan besar berasal dari lilin, perapian atau lampu kerosin. Sumber manapun yang Anda miliki, cahayanya akan temaram - lembut dan hangat, menciptakan suasana yang nyaman di lokasi-lokasi utama di dalam rumah. Jenis pencahayaan macam ini menarik orang-orang untuk berkumpul - sebuah fakta yang sudah kita ketahui dari zaman adanya api unggun.

Jika Anda tertarik untuk mengikuti perkembangan teknologi, mungkin Anda pernah mencoba lampu gas, dan menanggung resiko keracunan gas atau bahkan ledakan demi pencahayaan yang lebih terang. Tidak heran, jenis penerangan ini hanya bertahan sebentar karena suksesnya bohlam pijar ciptaan Edison semenjak tahun 1879.

Untung Rugi Lampu Pijar

Masa ini adalah awal dunia baru untuk penerangan - dan sebuah lembar baru hubungan kita dengan cahaya buatan. Bohlam pijar menawarkan kenyamanan dan  keamanan dan ia menjadi populer  karenanya. Namun jenis bohlam ini juga menimbulkan masalah baru: silau. Bohlam ini menyebabkan perubahan atmosfer dan ambiens yang dramatis di dalam rumah kita - sesuatu yang sebelumnya juga menjadi persoalan pengguna lampu gas.

Denmark membangun pembangkit listrik pertamanya di tahun 1891 dan tak lama sesudahnya, sebuah perusahaan Denmark yang kemudian dikenal dengan nama Louis Poulsen mulai menjual alat dan suplai elektrik. Ketika lampu listrik menjadi kian lazim di Denmark dalam kurun waktu tiga dekade setelahnya, seorang desainer muda bernama Poul Henningsen mulai menyoroti kekurangannya. Masalah silaunya lampu ini kerap mengganggunya. Dan kemudian ia pun menemukan suatu cara orisinal untuk mengatasinya.

Pendekatan Ilmiah Terhadap Penerangan

Henningsen adalah orang pertama yang meneliti penerangan dengan pendekatan yang ilmiah. Ia menyadari bahwa daripada sekedar menyelubungi bohlam dengan material transparan untuk mengurangi tingkat kesilauannya, ia dapat mengontrol arah pencahayaan dan menciptakan ambiens yang lembut dan memfasilitasi bayangan. Solusinya? Satu set kap lampu yang dikalibrasi dan ditata dengan penuh perhitungan.

Ia mengaplikasikan solusi yang kita temukan di alam ke dalam desain industrial dengan spiral logaritmik (equiangular) seperti prinsip yang kita temukan pada cangkang nautilus dan Mandelbrot set. Dengan seri kap lampu dengan ukuran kurva diameter yang beragam yang disusun dengan jarak yang bertingkat dari bohlam, Henningsen menemukan bahwa is dapat mencapai distribusi cahaya yang meliputi keseluruhan permukaan interior dari tiap kap. Cahaya dipantulkan dan diarahkan ke bawah, sementara bohlam yang menjadi sumber silau disembunyikan dari pandangan.

Hasil pertama dari eksplorasi ini adalah Paris Lamp (yang kini menjadi barang koleksi yang dicari di lelang), yang ia kembangkan bersama Louis Poulsen di paviliun Denmark di Paris World Exhibition tahun 1925. Lampu ini memenangkan medali emas dan menjadi model pertama untuk sistem kap bertingkat tiga yang kini kita kenal dengan nama lampu PH dari Louis Poulsen. Pentingnya Paris Lamp dan PH perlu digaris bawahi. Paduan bentuk dan fungsi yang inventif yang menjadi dasar desain lampu-lampu ini - dimana tiap detil memiliki tujuan yang jelas - adalah awal terbentuknya DNA Louis Poulsen: desain untuk membentuk cahaya.

Henningsen telah mendesain banyak variasi dari lampu PH. Ia juga mendesain lampu Artichoke yang populer, dan juga lampu-lampu skulptural lainnya, yang masing-masing menkapsulasi pendekatan baru untuk mengoptimisasi kulitas cahaya and ambiens suatu ruang. Tanpa silau, tanpa bayangan yang mengganggu, dan tanpa bagian yang tidak perlu. Pendekatan Henningsen terhadap cahaya pada saat yang bersamaan sangatlah fungsional dan humanis, dan pendekatan ini menjadi dasar dari tiap produk dari Louis Poulsen hingga saat ini.

Desain untuk Membentuk Cahaya

Bagi para desainer masa kini, yang memiliki sejumlah pertimbangan baru mengenai sumber cahaya LED, meneruskan legasi Louis Poulsen tentu saja membutuhkan pemikiran inventif dan penguasaan lumen. Meski demikian, tanpa memandang jenis sumber cahayanya, desain tiap produk dimulai dan diakhiri dengan kualitas cahaya yang dipancarkan. Dan sama pentingnya di dalam tradisi PH dan Artichoke, keindahan luar harus disertai dengan keindahan atmosfer yang diciptakannya. Dan betapa banyaknya variasi bentuk yang telah diciptakan oleh Louis Poulsen.

Dua tahun lalu, 90 tahun setelah Paris Lamp diluncurkan ke dunia, seorang desainer Denmark muda bernama Øivind Slaatto menciptakan sebuah produk untuk Louis Poulsen yang dapat dikatakan merupakan keturunan abad 21 dari lampu PH. Lampu gantung Patera, seperti halnya PH, terinspirasi dari formula matematika yang ditemukan di alam - dalam hal ini, sekuens Fibonacci (sekuens angka yang membentuk basis dari logaritma spiral).

Komposisi visor PVC spiral karya Slaatto yang asimetris, layaknya trio kap lampu berkurva karya Henningsen, membentuk cahaya untuk ambiens yang humanis. Untuk mencegah silau, Patera mengarahkan cahaya melalui sel-sel berbentuk wajik yang tertata dalam berbagai sudut di sekitar sumber cahaya. Layaknya PH, Patera juga memancarkan cahaya yang lembut namun memiliki bentuk yang menarik, kali ini dengan karakter asimetris yang kontemporer. Tidak heran, Slaatto menganggap Henningsen sebagai mentor in absentia.

Nilai dari pendekatan yang mantap terhadap desain - sebuah pendekatan yang memadukan fungsi dengan bentuk sedemikian rupa sehingga keduanya tidak dapat dibedakan lagi, menjaid sesuatu yang abadi ketika didasari oleh pengalaman yang diciptakan untuk manusia. Ini adalah sesuatu yang terlalu sering terlupakan di horizon perkembangan teknologi yang menyilaukan.