CLOSE TO NATURE - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

CLOSE TO NATURE

Bangunan ini merupakan wujud nyata dari betapa dinamisnya sebuah karya arsitektur dalam mewadahi kegiatan formal sebuah kantor



BY Editor

17 March, 2015


Dengan lokasi berada di sudut dan menghadap jalan utama yang cukup padat pada jamjam tertentu, terdapat kebutuhan untuk mewujudkan kualitas ruang yang relative tidak terganggu oleh bisingnya suara kendaraan yang lewat. Kesadaran untuk lebih ramah kepada lingkungan menjadi satu formula yang membuat bangunan kantor ini tidak terlihat mencolok.

Kehadirannya justru seakan ingin selaras dengan sekitarnya dengan tampilan muka bangunan yang natural. Kebijakan garis sepadan bangunan juga ikut andil memberikan inspirasi untuk lebih optimal memanfaatkan ruang-ruang yang tersisa untuk menghadirkan banyak tumbuhan hijau dan minimal menghilangkan pohon eksisting.

Dengan memanfaatkan sekuens dan hierarki, Rudy Kelana dan Gerald Tambunan dari Wahana Architects mengolah ruang-ruang yang ada menjadi sebuah cerita. Empat perusahaan dengan area bisnis yang berbeda harus bisa disatukan dalam satu impresi bangunan yang representatif. Melalui lorong panjang mencapai foyer yang terletak di ujung menjadi sebuah prosesi yang sekaligus menjaga keamanan dan privasi bagi kegiatan perkantoran di atasnya. Strategi ini secara langsung memosisikan seluruh ruang di lantai bawah agar tidak secara visual terlihat dari jalan raya.

CLOSE TO NATURE 2

Selain prosesi melalui lorong menuju foyer, terdapat area kolam dan taman yang secara langsung memberikan kesan lapang dan terbuka pada area lobi tanpa harus terganggu oleh padatnya lalu lintas dan hanya bisa menikmati elemen alam yang dirancang untuk bisa dinikmati dari ruang-ruang rapat dan ruang tunggu. Formula sederhana memanfaatkan empat elemen: kayu, besi, dinding precast punch pattern, dan dinding batu bata, menjadi satu kekuatan visual bangunan.

Bangunan kantor empat lantai ini memiliki ruang bawah tanah, lantai dasar, lantai dek atas, dan lantai dak atap seluas 2. 500 m2 yang mewadahi kombinasi beton dan struktur besi. Di lantai bawah mewadahi kegiatan rapat dan area penerimaan berupa lobi dan ruang duduk. Terdapat juga lounge untuk suasana yang lebih rileks. Semuanya menjadi bagian dari skenario dari lorong menuju foyer. Setelah mencapai area lobi, secara visual kemudian langsung menikmati ketinggian plafon hingga lantai dek atas.

Arsitek tidak membiarkan ruang-ruang terbentuk begitu saja tanpa ada detail-detail menarik yang membawa kesan dinamis ke dalam bangunan ini. Pertimbangan fengsui juga menjadi pertimbangan sejak awal sehingga pembagian ruang dan orientasi bisa direncanakan dengan pasti. Efek dinamis ini semakin terasa ketika deretan kolom yang rapi dan formal kemudian dipertemukan dengan dek sirkulasi di lantai atas yang secara visual miring; seakan membentuk huruf L.

Susunan kolom beton dan kolom besi juga menghasilkan detail-detail yang rapi dan menjadi elemen visual yang kuat membangun impresi kantor yang formal tetapi tidak kaku. Bahan kayu dan dinding yang dilapis batu bata merupakan ekspresi hangat yang bersanding dengan deretan ruang rapat yang transparan menggunakan pembatas kaca. Kesegaran dari hadirnya kolam dan taman yang bisa dinikmati dari ruang rapat membuat keseluruhan desain berdialog dalam bahasa natural yang selaras. Semua terasa menjadi lebih dekat dengan alam.

Lantai dasar menjadi bagian dari bangunan yang tampil transparan, sementara lantai di atasnya mewadahi kegiatan yang lebih privat. Kehangatan yang dirasakan dari dinding lapis batu bata dan kayu bertekstur kasar dipertemukan dengan detail struktur besi yang kokoh serta sehingga membuat lantai atas seakan melayang di atasnya. Formalitas ruang di bangunan kantor ini tidak diwujudkan dengan kental, tetapi privasi bagi ruang-ruang kerja di lantai atas memperjelas zona menjadi lebih privat di lantai atas. Kualitas serba-terbuka di lantai bawah juga semakin menguatkan hierarki semiprivat.

CLOSE TO NATURE 3

Mendekatkan ruang-ruang dengan alam juga menjadi salah satu konsep yang dikembangkan dengan menghadirkan tanaman yang menjulur di sepanjang lorong lantai bawah atau atas. Vegetasi yang menjulur ke bawah tersebut menjadi seperti tirai yang mengisi ketinggian ruang dan sekaligus membawa kesegaran ke dalam ruang.

Tanpa harus berusaha untuk menjadi desain yang menerapkan prinsip-prinsip green design, bangunan kantor ini memiliki detail menarik yang justru muncul karena respons terhadap iklim tropis. Dari sirkulasi udara yang sangat berhasil melalui celah-celah yang direncanakan dengan baik, sampai ke aspek pencahayaan yang sangat cukup. Asumsi energi di bangunan ini kemudian bisa direncanakan dengan lebih optimal karena energi pencahayaan dan pengondisian udara lebih terfokus pada ruang-ruang yang dibutuhkan.

Kedekatan dengan elemen alam seperti air dan vegetasi menjadi sebuah komposisi pemandangan yang menarik dan menyegarkan. Arsitek dalam hal ini sengaja menghadirkan keselarasan ruang dalam dan ruang luar sehingga kesegaran pemandangan di luar bisa dinikmati serta memberikan pengaruh positif ke kualitas ruang di dalam. Semuanya tercapai tanpa harus membiarkan pengaruh keramaian lalu lintas mengganggu kegiatan di dalam bangunan.

Ketika mendekat dengan alam dan berusaha lebih ramah kepada lingkungan, bangunan ini tidak begitu saja menyerah pada detail standar. Arsitek memahami betul kebutuhan perusahaan dengan menghadirkan skala ruang yang tepat dengan skenario ruang yang mampu membangun kesan tentang kualitas kantor dan hasil kerja di bangunan ini. Hasilnya ruang-ruang dengan nilai estetika tinggi, berfungsi optimal, dan memiliki tingkat privasi yang tepat.

Sunthy Sunowo adalah Managing Editor
Indesign Indonesia