Indonesia di Milan: Empowering Diversity - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

Indonesia di Milan: Empowering Diversity

Untuk pertama kalinya Indonesia memamerkan karya-karya terbaik dari 28 entitas desain kontemporer lokal di ajang di Milan Design Week yang bertajuk IDentities: Handmade Contemporary Indonesian Design Pavilion.

  • Benoa chair oleh Abie Abdillah untuk Tala x K, Lula tables oleh Eva Natasa dan aksesori oleh Indra Hadiwidjaja dan Liza Susanto untuk Sagalakayu.

  • Matala swivel chair oleh Irvan Noeman untuk Vivere, November chair (kiri) and Betta lounge chair (kanan) oleh Adhi Nugraha

  • Malya highback chair (kiri) dan Bhuana lounge chair (kanan) dari AlvinT

  • Teribi cup oleh Kandura Studio

  • Teribi cup oleh Kandura studio (kiri) dan Picnic chair oleh Luthfi Hasan untuk Jakarta Vintage (right)



BY Editor

17 May, 2017


Tahun 2017 akan tercatat di dalam sejarah industri desain produk sebagai tahun dimana Indonesia mengadakan pameran perdana di Milan. Bertempat di Interspazio di zona Tortona selama Milan Design Week, IDentities: Handmade Contemporary Indonesian Design Pavilion, meminjam kata pengantar dari katalog pameran tersebut, mempersembahkan "bentuk dan rupa desain produk Indonesia yang baru melalui pemberdayaan keberagaman".

Kehadiran Indonesia di Milan bukan sesuatu yang baru - telah banyak desainer individual yang memamerkan karya mereka di ajang desain paling bergengsi di dunia ini, namun pameran kali ini adalah adalah pertama kalinya negara kita secara resmi mempersembahkan talenta terbaiknya. Dunia boleh jadi mengenal Indonesia dari angka statistiknya yang fantastis: lebah dari 250 juta penduduk, lebih dari 17,000 pulau, lebih dari 300 suku dan bahasa, and lebih-lebih lainnya. Namun terlalu sedikit yang mereka ketahui (dan yang mereka dengar) tentang industri desain kita, terlepas dari kekayaan sumber daya alam dan kerajinan tangan kita.

Bukan rahasia lagi jika banyak brand furniture internasional yang memiliki fasilitas produksi di Indonesia - terima kasih pada kebijakan pemerintah yang melarang ekspor bahan mentah, yang mendorong perusahaan-perusahaan mebel asing untuk memproduksi barang mereka di dalam negeri. Tengoklah kota-kota pesisir seperti Jepara, Semarang dan Cirebon dan kita akan melihat banyak pabrik furniture dengan berbagai keahlian.

Kemampuan Indonesia dalam memanufaktur tidak dipertanyakan lagi. Namun lain halnya Industri mebel dalam negeri kita, yang terasa seperti medan perang gerilya. Desainer-desainer lokal bukan hanya harus dapat bersaing dengan brand-brand lokal, mereka juga harus senantiasa membela properti intektual mereka di dalam ekosistem yang belum terbentuk sempurna untuk dapat melindungi mereka.

Titik cerah timbul di tahun 2015 ketika Jokowi membentuk badan pemerintah yang berfungsi untuk mengawasi sumber daya kreatif kita. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bertugas untuk mengembangkan ekonomi kreatif dengan menciptakan iklim yang kondusif bagi industti kreatif. Badan ini bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mengawasi 16 sektor kreatif, diantaranya arsitektur, desain interior, desain produk dan kriya.

Menyangkut desain furniture (yang termasuk dalam sektor desain produk) Bekraf bertujuan untuk membantu para produsen furniture lokal untuk bergeser dari hanya memproduksi bagian (atau bahkan mencontek dari) brand asing menjadi brand mandiri dengan desain yang orisinal. IDentities adalah usaha teranyar Bekraf. Pameran ini mempersembahkan wajah kontemporer desain furniture Indonesia ke panggung dunia melalui produk-produk yang diseleksi dari 28 brand lokal.

Ke 28 brand lokal ini adalah Kayou, Kandura Studio, AlvinT, Magno, Adi Nugraha, Vivere, Cassia Studio, Eva Natasa, Sagalakayu, Djalin, V Design, Anymo, Parang Kencana & Marijoe Home, Studio Hiji, Sejauh Mata Memandang, Tala x K, Indovickers, Eduardus Tri Aryo Wibowo, Amygdala Bamboo, Spoleno Artspace, Mohoi, Jamooga, SylvieRomy MathArt+Design, Nuanza Porcelain, Jakarta Vintage, Raja Serayu, Wisanka dan Satori Rattan.

"Orang-orang selalu bertanya, 'Apa itu Indonesian design?' dan selama ini kita berpikir jika kita harus memiliki sesuatu yang bisa dibilang sebagai Indonesian design," kata Joshua Simandjuntak, Deputy Chairman for Marketing Bekraf dan penggagas pameran ini. Kita sudah mengenal Joshua di dunia desain melalui studio Zylia and furniture brand Karsa. "Tapi saya kira kita harus menyadari bahwa keberagaman adalah kekuatan dan identitas kita. Dan itulah yang kita rayakan disini, entitas-entitas ID - ID entities yang majemuk."

Rotan alami dan sintetis, kayu (jati, sonokeling, pinus) dan keramik adalah material-material utama tampil, namun ada juga produk-produk yang terbuat dari stainless steel, rami dan emas - yang terinspirasi dari ragam kultur dan kondisi alam kita yang luar biasa ragamnya. Entitas-entitas desain yang majemuk ini dipersatukan oleh metode produksi mereka, yaitu kerajinan tangan.

"Masih sebuah work in progress," komentar desainer Alvin Tjitrowirjo, pendiri brand AlvinT yang juga menjadi desainer pameran ini, ketika ditanya bagaimana pameran ini merepresentasikan industri desain Indonesia yang multi-faset. "Tapi terdapat sense of honesty di dalamnya, dari materialnya yang familiar dan dari proses kerajinan tangannya," tambahnya. Ditambah dengan sensibilitas kontemporer, proses ini telah menyajikan sesuatu yang segar.