Evolusi Desain IKEA - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

Evolusi Desain IKEA

Dahulu institusi yang dipandang sebelah mata sekarang mulai menumbuhkan reputasi sebagai design house otentik yang berkomitmen pada talenta orisinal, usaha IKEA dalam menumbukan desain yang demokratis terlihat di Milan Design Week.



BY Editor

19 May, 2017


Boleh Jadi nama IKEA di Indonesia memang sudah keren semenjak brand ini hadir di tanah air. Tapi tahukah kamu bahwa di duni desain internasional, ada masanya IKEA dipandang sebagai brand kacangan? Namun kini IKEA tel;ah berevolusi menjadi brand yang menjagokan desain. Dan ini adalah fakta yang cukup sulit untuk ditelan dunia desain di negara-negara maju sana.

Dahulu, di sirkuit dunia desain internasional, IKEA sinonom dengan area abu-abu yang selalu diperdebatkan: apakah produk-rpoduk mereka itu "inspired by" atau replika? Dan to be fair, pertanyaan ini bukan tanpa alasan yang jelas. IKEA sudah bertahun-tahun memproduksi produk-produk dengan harga terjangkau yang seringkali terlihat amat mirip dengan desain yang sudah ada, terutama desain-desain dari studio desain Scandinavia seperti Artek. Misalnya saja, kamu dapat datang ke gerai IKEA manapun di dunia dan membeli bangku Stool 60s (yang dinamakan "Frosta Stool" di IKEA) yang dijual separuh harga desain orisinalnya.

Debat "inspired by" atau replika ini masih hidup, namun beberapa tahun belakangan ini, IKEA berubah arah - ia mulai berinvestasi pada desainer intik memproduksi desain orisinal dan otentik dan aksesibel massal. Diantara para desainer ini adalah Tom Dixon, Jasper Morrison, Naoto Fukasawa, Patricia Urquiola, Walter van Beirendonck, Studio Truly Truly - para ikon dan selebriti desain internasional, yang kini berkontribusi dalam pelebaran demokrasi desain di bawah bendera IKEA.

Dan tampaknya IKEA sangat getol untuk melanjutkan perjalanan ini. Lihat saja kolaborasi brand ini di Salone del Mobile April lalu.

Brand Swedia ini meluncurkan koleksi furnitur kolaborasinya di IKEA Festival, perhelatan yang juga diisi dengan workshop, diskusi, pertunjukkan musik, yang semuanya difokuskan pada ide ruang tinggal dan apa arti ruang ini bagi kita di masa kini.

Dari yoga di pagi hari hingga melukis dengan robot, gudang tua di distrik Lambrate tempat festival ini berlangsung menjadi salah satu highlight (dan pagelaran yang paling banyak difoto di Instagram) di Salone. Di Festival ini dipamerkan juga kolaborasi dengan Tom Dixon dan Hay, daru juga konsep-konsep ruang oleh Faye Toogood untuk IKEA. Acara ini ditutup dengan sebuah flash sale di hari Minggu dimana furnitur klasih IKEA didiskon hingga 40 persen, pengunjung juga dipersilakan membawa pulang barang dari festival.

Meskipun perlu diakui bahwa masih ada aspek problematis di IKEA, langkah yang diambil oleh brand ini adalah langkah di arah yang tepat, terutama di area desain otentik. Dan meskipun terlihat sembrono atau mungkin kurang fair, kita harus mengakui bahwa apa saja yang dapat membuat industri kita lebih terbuka dan aksesibel bagi publik yang lebih luas adalag sesuatu yang baik, dan bahkan menguntungkan.