PAUL TAN - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

PAUL TAN

Dalam perjalanannya mengukir nama perusahaan di kancah bisnis industry arsitektur dalam dan luar negeri



BY Editor

17 March, 2015


Bagi arsitek bernama panjang Paul Tanjung Tan, pertimbangan untuk menekuni ilmu arsitektur berawal dari dilema yang ia hadapi saat harus memilih konsentrasi studi antara ilmu alam atau sosial, di bangku SMU. Dengan ragam minat pada mata pelajaran, dari matematika, fisika, seni, sejarah, bahasa, hingga budaya, ia menguasai kedua cabang ilmu secara merata. “Inilah salah satu alasan mengapa saya menjadi arsitek, karena profesi ini menuntut perpaduan antara ilmu dengan seni,” ungkapnya. Baginya kata ‘arsitek’ tercipta khusus untuk menggambarkan profesi yang unik tersebut, unik terhadap science maupun art.

Ketika akhirnya sampai pada jenjang pendidikan tinggi, ia pun memilih jurusan arsitektur karena selain menantang dan dipenuhi aktivitas “penataan”, juga mengerahkan kemampuan otak kanan maupun kiri secara optimal. Jika ditilik lebih jauh lagi, pada dasarnya ketertarikan pada arsitektur itu sendiri sudah muncul sejak ia masih kecil, yaitu seringnya ia memainkan blok-blok kayu sisa produksi furnitur yang ia potong kecil-kecil, untuk disusun menjadi bangunan dengan berbagai ukuran, dan ditata menjadi kota kecil. Bakat dan minat dininya pada aktivitas desain dan penataan ruang ini mungkin memiliki keterkaitan genetik dengan sosok kakeknya, Ir. Liem Bwan Tjie, y ang merupakan salah satu arsitek untuk konglomerat gula Oei Tiong Ham pada zaman 40-an dan 50-an di Semarang, yang nama dan karyanya hingga sekarang tercatat di Museum Amsterdam dalam sejarah arsitektur Indonesia.

Paul tan 2

Ketika akhirnya menekuni jurusan arsitektur di Royal Melbourne Institute of Technology, ia menjalani cukup banyak pengalaman magang, mulai dari biro Edmond Corrigan Architects di Melbourne sebagai assistant designer pada biro arsitektur South Yarra Collaborative Pty. Ltd., Architects, sebelum kemudian diangkat menjadi arsitek, hingga di Denton, Corker, Marshall Pty. Ltd., Melbourne, masih sebagai arsitek. Pada masa penyelesaian tugas akhir, ia mengaku sangat beruntung karena dibimbing seorang arsitek terkenal yang juga guru besar dari Harvard, Peter Eisenman, selama 6 bulan. “Dari situlah saya belajar untuk merealisasikan sebuah visi yang masih abstrak untuk menjadi konsep dan kemudian menjelma menjadi bentuk dan bangunan,” ungkapnya dengan semangat.

Setelah ia akhirnya lulus dengan gelar Bachelor of Architecture di tahun 1985, ia sempat melanjutkan pekerjaan dengan Denton, Corker, Marshall Pty. Ltd., sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Di tanah air, Paul bekerja dengan perusahaan HOK International

Ltd. Hong Kong yang bekerja sama dengan PT Parama Loka Consultants di Jakarta. Salah satu proyek besar yang ia kerjakan saat itu adalah pembangunan Grand Hyatt Hotel dan Plaza Indonesia, yang pada masanya merupakan salah satu mixed-use modern pertama dengan rancangan basement terdalam hingga 15 m.

Setelah 3 tahun bekerja, ia lalu beralih mendirikan perusahaan atas ajakan salah satu teman Australianya, yang diberi nama Pacific Associates International (PAI) di Jakarta. Pada pengalaman pertamanya merintis perusahaan ini, ia berhasil mengembangkan jumlah anggota tim yang awalnya 4 orang menjadi 40 orang dalam kurun waktu tiga tahun dan mencanangkan sistem komputerisasi pada perusahaan. Ia kemudian mengundurkan diri di tahun 1991 untuk mewujudkan visi arsitektural yang belum tercapai, yaitu jenis yang lebih kompleks seperti mixed-use, karena saat itu PAI lebih berfokus pada proyek rumah-rumah tinggal sehingga sifatnya tidak begitu membuka peluang untuk proyek-proyek yang lebih besar.

Paul tan 3

Pada 1986, sebenarnya Paul dan mitra-mitranya telah mendirikan perusahaan bernama PT Arkipuri Mitra yang di dalamnya menampung profesionalprofesional di industri, tetapi aktivitas perusahaan baru secara resmi beroperasi tahun 1990. Biro konsultan arsitektur yang pertama mereka buka di Australia ini kemudian dinamai ARKdesign Australia, sementara kantor yang di Jakarta tetap memakai nama Arkipuri Mitra, meski pada 1998 akan berubah nama menjadi Arkipuri Intranasional. ARKdesign, dengan Paul menjabat sebagai principal, pertama berdiri pada 1986 dan banyak bergerak untuk proyek bangunan-bangunan kompleks seperti planning, mixed-use, commercial high-rise, yang tidak dapat ia tangani saat masih di PAI. Sebuah anak perusahaan lainnya juga didirikan dengan nama Indesign Domus, yang secara khusus menangani proyek-proyek lebih kecil dan lebih pribadi, seperti hotel, rumah tinggal, desain interior, dan lain sebagainya, dengan Paul sebagai Design Partner.

Bagaimana dengan ideologi utama yang menjadi landasan ARKdesign dalam mendesain suatu proyek? Cukup lewat merancang dengan sensitivitas dan pendekatan kontekstual. “Kami selalu mencoba menjawab atau responsif terhadap konteks dimana kami bekerja,” ia menjelaskan, “sebagaimanapun juga kita harus mengerti dan mengenali lingkungan alam dan budayanya, serta lingkungan manusia dan fisiknya, jangan langsung menanamkan suatu desain ke suatu tempat di mana kita belum kenal dengan situasinya.”