Tan Tjiang Ay - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

Tan Tjiang Ay

Baginya arsitektur adalah kehidupan dan sebuah gaya bahasa, selalu ada perubahan namun tetap berada dalam keteraturan.



BY Editor

27 June, 2014


Teks: Nissa Maretta Web Editor: Anindia Karlinda

Bagi arsitek senior Tan Tjiang Ay, keinginannya menjadi arsitek jauh dari hal-hal yang sifatnya puitis dan filosofis. Stigma sosiokultural yang mendarah daging pada masanya membuat orangtua Tan tidak setuju akan profesi yang hendak dipilihnya. Namun hal tersebut tidak membuat Tan Tjiang Ay mengganti cita-citanya. Belajar menjadi seorang arsitek sempat dijalani Tan. “Saya belajar di mana-mana. Awalnya di ITB yang pada waktu itu namanya masih Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang ada di Bandung, lalu sempat pindah ke UNPAR (Universitas Katolik Parahyangan),” akunya. Sampai pada akhirnya sekitar tahun 1960-an Tan memutuskan untuk tidak melanjutkan studi dan memulai perjalanannya sendiri.

Ketika hampir 12 tahun bekerja, Tan merasa sulit untuk menonjolkan personal character pada tiap karyanya jika ia terus-terusan berada di bawah “naungan” yang lebih besar. Oleh karenanya, ia memutuskan untuk kembali berjalan sendiri. Hingga sekitar tahun 1982, ia mendirikan biro konsultan The Office of Tan Tjiang Ay Architects. Pada waktu itu Tan tidak gentar akan “kepincangannya”, justru yakin jika dapat memberikan tendangan yang keras walaupun ia tidak sempurna.

tan Tjiang Ay web 1

Dalam merancang rumah, terutama rumah tropis, kenyamanan menjadi hal utama. “Karya-karya saya selalu menerapkan desain rumah yang ‘poreus’.” Poreus dalam bahasa Belanda artinya berpori. Karya Tan memang terkenal menerapkan prinsip rumah tropis dengan unsur-unsur ruang terbuka, taman, dan selasar. Pembelajaran tentang rumah tropis didapatnya dari rumah tradisional sederhana yang hanya berdindingkan bilik bambu serta berlantaikan bilah bambu. Cahaya dan sirkulasi udara tetap dapat masuk lewat celah pada bilik dan bilah bambu sehingga ruang didalamnya tetap terang dan nyaman.

Dalam pengolahan ruang, Tan juga selalu menerapkan kesederhanaan yang ‘kaya’ akan spasial ruang. “Jangan membuat ruangan, tapi buatlah ruang” menjadi hal yang selalu dilakukan Tan dalam setiap proyeknya. Kesederhanaan pada tiap rancangannya tidak membosankan dan kaku, justru bisa dibilang selalu mempunyai “spirit” yang diungkap lewat ambience di tiap ruang.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Tan Tjiang Ay selengkapnya dapat disimak dalam Indesign Indonesia Vol. 07 2013. Untuk berlangganan atau membeli back issue dapat mengirimkan email ke indesign.indonesia@mpgmedia.co.id.