Achmad Noe’man - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Achmad Noe’man

Kecenderungan manusia dalam menolak hal baru di luar tradisi dan kebiasaan dipatahkan oleh Achmad Noe’man melalui desain Masjid Salman yang melambungkan namanya.



BY Editor

17 September, 2014


Sebuah idealisme adalah dasar kuat yang menjadi pegangan dalam pemikiran-pemikiran konsep arsitektur. Makna dan pesan apa yang ingin disampaikan, apakah sudah sesuai dengan yang dibutuhkan atau justru terlalu berlebihan, kejujuran, kecerdasan dalam pengolahan bangunan dengan tetap memegang teguh kepercayaan pihak lain yang bekerja sama dengannya adalah prinsip-prinsip yang mendasari setiap pekerjaan yang dilakukan oleh seorang Achmad Noe’man.

Lahir di garut, 10 Oktober 1926, ketertarikan Noe’man akan dunia arsitektur diawali ketika ia kerap kali mengikuti perjalanan bisnis ayahnya yang seorang saudagar batik dalam pengembangan organisasi Muhamadiyah di Garut, yang tidak lepas dari pengadaan bangunan-bangunan baru seperti sekolah, rumah yatim, dan masjid. Meski belum menjalani pendidikan formal sebagai seorang arsitek, Noe’man telah turut membantu sang ayah dalam mendesain bangunan melalui gambar-gambar sederhana.

Pendidikan formal arsitektur diawalinya pada tahun kedua kuliahnya di teknik sipil, ketika jurusan Arsitektur dibuka di ITB. Pada masa perkuliahan, Achmad Noe’man dikenal sebagai mahasiswa dengan ide yang meletup-letup, tidak heran salah satu dosennya menjulukinya sebagai Coca-cola head. Pada 1958, selepas dari masa perkuliahannya di ITB, Achmad Noe’man mendirikan Birano (Biro Arsitektur Achmad Noe’man).

Achmad Noeman 1

Kontroversi desain Masjid Salman yang berlokasi di dalam lingkungan kampus ITB membuat nama Achmad Noe’man dikenal. Banyak pihak yang hanya memahami bahwa sebuah desain masjid haruslah memiliki kubah. Namun melalui pemahaman Noe’man dalam dasar-dasar pemikiran bangunan ibadah umat muslim ini, ia memiliki pendapat lain “kubah adalah bentuk struktur, bukan identitas sebuah masjid, hal itu yang belum dipahami masyarakat,” ujarnya. Selain itu, konsep akan kesempurnaan barisan salat yang selalu menjadi pertimbangan utamanya diartikan kedalam desain masjid tanpa tiang di dalam.

Achmad Noeman 2

Achmad Noe’man menampik identitasnya sebagai arsitek masjid antikubah melalui karya-karya masjid- nya yang lain, seperti pada Islamic Centre, Istiqlal, dan At-Tin. Seiring dengan proyek-proyek lain yang dikerjakan Achmad Noe’man, permintaan desain masjid menjadi semakin besar selepas proyek Masjid Salman, dari Jakarta, Bogor, ujung Pandang, hingga Palestina dan Sarajevo Bosnia.

Memandang setiap proyek yang ia kerjakan seolah memandang anaknya sendiri, Achmad Noe’man, arsitek yang juga aktif mengajar sebagai dosen di jurusan Arsitektur dan dosen luar biasa di jurusan Seni rupa ITB hingga tahun 2005 yang lalu ini tidak pernah berlebihan-lebihan dalam desainnya, melainkan selalu menyesuaikan dengan konteks yang ada di lingkungan proyek tersebut.

Teks: Bernadetta Tya  Fotografi: Didi Satriadi

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Achmad Noe’man selengkapnya dapat disimak dalam Indesign Indonesia Vol. 04 2012. Untuk berlangganan atau membeli back issue dapat mengirimkan email ke indesign.indonesia@mpgmedia.co.id.