Adhi Moersid - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

Adhi Moersid

Salah satu founding father dari biro arsitektur Atelier 6 berbagi cerita tentang perjalanan karier dan kecintaannya terhadap arsitektur tropis



BY Editor

17 September, 2014


Tidak ada pekerjaan yang terlalu besar atau kecil untuk Adhi Moersid. Dari mendesain sebuah bangunan yang akhirnya mendapat penghargaan internasional maupun mem- bangun sebuah kandang ayam, semua ia lakukan dengan sungguh-sungguh. Baginya, yang paling penting dari sebuah pekerjaan adalah memberikan manfaat, penjelasan, atau pengertian bagi sebanyak-banyaknya orang. “Karya arsitektur bukan sekadar tumpukan bata dan paduan material saja, tapi harus ada sesuatu yang lebih, beyond physical aspeknya. Harus ada sebuah ide yang memberikan harapan pada orang banyak, bahwa akan ada sesuatu yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Adhi Moersid 1

Bisa jadi kegemaran menukang dan berkreasi merupakan bibit awal yang menumbuhkan kecintaan Adhi Moersid terhadap arsitektur. Tidak terpikirkan olehnya untuk mengambil program studi perkuliahan yang berkaitan dengan hobinya ini, hingga lewat masa dua tahun perkuliahan di Jurusan Farmasi UGM Yogyakarta. “Saya keluar dari farmasi karena tidak cocok. Saya ingin melakukan apa yang saya suka yaitu men- ciptakan barang-barang seperti tadi. Ternyata jurusan yang cocok adalah arsitektur,” kenangnya.

Masa perkuliahan di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung dijalaninya selama sembilan tahun sembari bekerja. Pada 1964 Adhi mendapat kesempatan untuk duduk di tim 1 perencanaan pembangunan venue CONEFO (Conference of New Emerging Forces) yang kini menjadi kompleks MPR-DPR , bersama lima orang temannya yaitu Darmawan Prawirohardjo, Robi Su- larto (Alm), Nurrochman Siddhartha, Iman Sunario, dan Yuswadi Saliya. Formasi tim kerja ini bertahan jauh setelah lulus, dan merupakan bibit pembentukan biro Arsitek Atelier 6, tahun 1968.

Adhi Moersid 2

Karakter bangunan-bangunan karya Adhi Moersid ditandai dengan konsep yang mengakar pada budaya setempat serta fisika bangunan yang disesuaikan pada iklim tropis Indonesia. Mungkin hal itulah yang hari ini mulai diramaikan para arsitek, ajakan untuk menciptakan arsitektur dengan identitas lokal, yaitu selalu mengaitkan bangunan dengan lokalitas tempat dan lingkungan di mana ia berdiri.

Sebelum mendirikan Atelier 6, Adhi menghabiskan 2 tahun di PT Gubah Laras, biro arsitek Dipl. Ing Soejoedi. “Saya ingin menjadi seorang arsitek hebat seperti beliau tapi saya tidak ingin menjadi seorang Soejoedi kecil, maka saya berpikir, apa yang membuat seorang arsitek itu hebat? Itu perlu saya lakukan,” lanjutnya.

Kini di usianya yang ke-75, ia dikenal sebagai tokoh pemuka dalam arsitektur tropis yang peka lingkungan dan budaya. “Pokoknya kalau mau ngobrol tentang arsitektur tropis atau lokalitas, Pak Adhi Moersid orangnya,” ujar rekan sejawat Adhi di Atelier 6, Nurrochman Siddhartha.

Teks: Asih Jenie Fotografi: Rizhki Rezahdy

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Adhi Moersid selengkapnya dapat disimak dalam Indesign Indonesia Vol. 03 2012. Untuk berlangganan atau membeli back issue dapat mengirimkan email ke indesign.indonesia@mpgmedia.co.id.