GEOETNIK DESIGN AND CRAFT EXHIBITION - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

GEOETNIK DESIGN AND CRAFT EXHIBITION

SEBUAH KAJIAN ULANG PADA KERAGAMAN ALAM DAN LEWAT DESAIN DAN KRIYA. Tahun 2013 rasa-rasanya menjadi tahun yang berlimpah seni, dalam setahun ada beberapa gelaran serta acara kreatif yang menghiasi dunia pameran Indonesia. Seperti yang menjadi ekshibisi penutup tahun 2013, Biennale Desain dan Kriya. Tentu tidak sama jika dibandingkan dengan gelaran sebelumnya, yaitu Jakarta Biennale. Kedua […]



BY Editor

14 April, 2014


SEBUAH KAJIAN ULANG PADA KERAGAMAN ALAM DAN LEWAT DESAIN DAN KRIYA.

Tahun 2013 rasa-rasanya menjadi tahun yang berlimpah seni, dalam setahun ada beberapa gelaran serta acara kreatif yang menghiasi dunia pameran Indonesia. Seperti yang menjadi ekshibisi penutup tahun 2013, Biennale Desain dan Kriya. Tentu tidak sama jika dibandingkan dengan gelaran sebelumnya, yaitu Jakarta Biennale. Kedua pameran ini mempunyai konten yang berbeda. Jelas kedua Biennale sama-sama mengedepankan konsep kreatif, inovatif, serta potensi para seniman lokal dalam memproduksi mahakaryanya. Namun jika Jakarta Biennale berbicara soal kehidupan warga kota, lantas apa yang difokuskan oleh Biennale Desain & Kriya ini?

GeoEtnik disebut-sebut sebagai tema yang diusung oleh acara yang kali pertama diadakan ini, 20 Desember 2013 lalu, di Galeri Nasional Jakarta menjadi tanggal dan lokasi di mana Biennale Desain dan Kriya Indonesia 2013 resmi dibuka. Tema ini dianggap dapat mengedepankan kontribusi kreasi lokal berwawasan lingkungan sebagai solusi budaya global. Kekayaan alam serta tradisi adalah potensi sumber inspirasi untuk mengatasi keseragaman pada masa kontemporer. Alam merupakan potensi terbarukan, sedangkan tradisi memiliki dimensi kearifan luas yang memadukan logika, estetika, serta filosofi yang dapat mencerminkan prinsip modern kontemporer. Gelaran ini juga memamerkan karya-karya konseptual dan eksperimental secara individual juga kolaborasi. Mengapa terbagi? Hal ini disampaikan Irvan Noe’man selaku ketua kurator BDKI 2013, menurutnya proses kolaborasi adalah kata kunci pada desain saat ini. Oleh karenanya terdapat 13 kelompok kolaborasi yang merupakan gabungan dari seniman dengan berbagai disiplin desain yang berbeda. Sekitar 13 karya kolaborasi dan 53 karya individu yang dipamerkan dari 8 subsektor, di bidang arsitektur, interior, mebel, produk, kriya tekstil, desain interior, mode, dan grafis. Dalam kelompok kolaborasi ini akan nampak hasil kerja sama antardisiplin dalam merespons suatu persoalan melalui desain terintegrasi, kekuatan ego masing-masing ilmu yang dilebur jadi sebuah karya menarik. Pada akhirnya para peserta pameran ini seperti mengusung isu-nya masingmasing. Luas, dari persoalan kucing garong hingga rancangan gaun cantik yang melambai. Entah karena ini kali pertama atau memang menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika, benang merahnya mungkin terasa luwes dan sangat luas sehingga beberapa karya justru tampil dengan sangat kuat. Walau begitu adanya wadah “pamer” seperti ini memang tetap diperlukan bangsa yang kerap mempertanyakan jati dirinya sehingga medium pameran diharap dapat terus mengasah selain keterampilan, kreativitas dalam seni, dan cabang ilmu lain, tentunya juga semakin mempertajam pikiran dan wawasan agar tidak terjebak dalam keseragaman yang kini semakin bias.

biennale.desainkriya.com

Rumah kucing

rumah kucing

Bergerak dari keinginan menyediakan tempat perlindungan bagi kucing liar di seputaran Jakarta, Andra Matin bersama Hermawan Tanzil membuat urban street scape, berupa rumah bagi kucing liar untuk berlindung, bermain, serta makan. Rumah kucing ini nantinya juga dapat menjadi salah satu “urban elements” untuk manusia dan makhluk hidup lain berinteraksi dalam sebuah lingkup perkotaan modern.

biennale.desainkriya.com

RUANG DALAM RUANG

ruang dalam ruang

Ekshibisi kolaborasi empat seniman, Zanun Nurangga, Suyin, Joshua Simandjuntak, serta Kahfiati Kahdar ini mempunyai ide dasar penciptaan ruang kesetaraan yang mengadopsi filosofi pendopo yang kemudian diterjemahkan dalam desain dan kriya kontemporer.

biennale.desainkriya.com

Transforattan

transforattan

Konsep produk karya Adhi Nugraha, Ahmad ‘Sofie’ Sofiyulloh, dan Ilhamia Nuantika ini terdiri dari unit-unit dasar (basic components) sebuah furnitur, seperti stool, kursi, meja, frame, dan boks yang masing-masing dapat dikembangkan terus (ditransformasikan) ke dalam bentuk dan fungsi lain sesuai kebutuhan dan kreativitas pengguna. Sistem penggabungan unit-unit dasar ini bisa menjadi satu bagian utuh, dengan menggunakan kuncian-kuncian yang fleksibel (system knockdown).

biennale.desainkriya.com

Cocoon menetas di alam

cocoon

Berjudul Cocoon Menetas di Alam, desainer interior Rina Renville, arsitek Yu Sing, dan Adi Panuntun, Founder & Creative Head PT Sembilan Matahari, membuat sebuah ruang publik yang berupa kapsul dengan desain seperti rumah panggung, dan dapat digunakan oleh siapa aja di mana pun. Karya kolaborasi antara tiga profesi ini menunjukkan karakter masing-masing desainernya.

biennale.desainkriya.com