Reversible Relationship - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

Reversible Relationship

Ada kedekatan antara Indonesia dengan Jepang. Hubungan yang dija lin bukan tentang guru dan murid, tapi tentang dua visi yang saling berbagi



BY Editor

13 August, 2014


Ada kedekatan antara Indonesia dengan Jepang. Hubungan yang dija lin bukan tentang guru dan murid, tapi tentang dua visi yang saling berbagi

Ide untuk menggelar karya-karya arsitek Indonesia di Tokyo pertama kali dicetuskan oleh Deddy Wahjudi, principal LABO Architect. Selama delapan tahun tinggal untuk studi, bekerja, dan meneliti di Jepang, Deddy melihat bahwa Jepang merupakan salah satu pintu perkembangan dan parameter arsitektur di dunia dan Asia. “Sudah seharusnya kita berpameran di Jepang sebagai sarana untuk memublikasikan karya dan pemikiran arsitek Indonesia pada dunia,” ungkap Deddy.

Karya-karya yang ditampilkan dalam Indonesian Architects Week @ Tokyo 2011 (IAWT 2011) pada 24 September- 2 Oktober yang lalu di galeri 3331 Arts Chiyoda merupakan karya 46 orang arsitek/tim/firma Indonesia. Karena dipilih sebagai representasi pemikiran dan metode pendekatan arsitek Indonesia, maka karya yang ditampilkan sangat beragam, mulai dari rumah tinggal, edukasi, ibadah, kantor, dan pabrik. Karya-karya tersebut beragam, mulai dari bangunan terbangun, hasil workshop, kompetisi, dan karya yang masih dalam proses desain. Beberapa contohnya antara lain Surya Research Center karya Arkitekton Limatama, Tourism High School karya Dhika Architama, Bandung Technopark karya Je_Feriasthama, Bald House karya Nataneka Architects, dan Jakarta Football Stadium karya PDW Architects. “Rata-rata proyek yang dipilih mendapat penghargaan baik di dalam atau luar negeri. Keragaman karya mengekspresikan keragaman pemikiran arsitek Indonesia saat ini,” imbuh Deddy.

Karya-karya yang mewakili Indonesia di Tokyo dikuratori oleh Deddy dan Andra Matin. Deddy mengatakan Aang (sapaan akrab Andra Matin) dipilih karena sudah sangat sering singgah di Jepang dan merupakan arsitek Indonesia pertama yang diliput oleh media publikasi arsitektur Jepang untuk beberapa karya dan pemikirannya. IAWT 2011 terselenggara atas kerja sama banyak pihak: tim LABO dengan perencanaan detilnya, Imelda Akmal, dan IAI. Acara IAWT 2011 dibuka oleh Dubes RI untuk Jepang, Muhammad Lutfi. Hadir pula tokoh-tokoh penting arsitektur dunia, antara lain Presiden UIA, Louis Cox, Presiden Arcasia dan Chairman Kongres UIA 2011, George Kunihiro, juga beberapa ketua ikatanarsitek dari Singapura, Thailand, India, Pakistan, dan lain-lain. IAWT 2011 merupakan salah satu acara kolateral dari Kongres UIA (United of Architect) 2011 yang dilaksanakan di Tokyo. George Kunihiro (Ketua UIA 2011) mengatakan IAWT 2011 merupakan pameran terbaik dari sekian banyak acara kolateral yang dilaksanakan di Kongres UIA 2011.

Selain itu, Indonesia adalah satu-satunya negara yang mengadakan pameran di Kongres UIA 2011. “Selain merepresentasikan perkembangan arsitektur Indonesia akhir-akhir ini, IAWT 2011 dapat menjadi media bagi kita, sesama arsitek Indonesia, untuk mengukur diri dan belajar dalam forum komunitas arsitektur yang lebih luas. Lebih dari itu, IAWT 2011 juga bermaksud untuk mempererat komunikasi, pergaulan, dan silaturahmi arsitek-arsitek Indonesia dengan komunitas arsitek dunia,” pungkas Deddy seraya tersenyum.