SPACE INVASION - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

SPACE INVASION

Mungkin saat orang mendengar nama Potato Head, mereka akan membayangkan melihat bentuk kepala kentang di restoran di bilangan Jakarta Selatan ini.



BY Editor

11 August, 2014


Teks : Gita Hastarika; Fotografi: Rizky Rezahdy

Mungkin saat orang mendengar nama Potato Head, mereka akan membayangkan melihat bentuk kepala kentang di restoran di bilangan Jakarta Selatan ini. Lalu pertanyaannya, kenapa malah kepala gurita yang tampak di dinding raksasa setinggi dua lantai yang begitu mendominasi restoran itu?

Hal ini lalu dijelaskan oleh pernyatakan Eko Nugroho,pelukis mural yang berlatar belakang warna krem pastel tersebut. Ia menyatakan bahwa konsep mural ini memang berasal dari konsep pribadinya, bukan mengikuti konsep restoran. “(Konsep mural saya adalah) sebuah pertanyaan besar tentang kehidupan masyarakat modern, isu-isu politik maupun sosial yang berkembang di masyarakat saat ini. Lewat mural ini saya mempertanyakan masalah “Global Paranoia” dalam “Global Identity”.

space invasion1

Eko hanya merespon “ruang” yang ada, tanpa memikirkan konsep desain interior yang telah matang direalisasikan oleh arsitek Andra Matin. Dari situlah muncul wujud-wujud intimidatif seperti pesawat UF O yang bertangan, kotak bermata yang menyerupai televisi, mesin cuci, juga mirip mesin kasir, hingga manusia bertangan asimetris (yang satu bercapit dan yang satunya lagi menjuntai panjang). Di depan mural ini adalah area bar dengan dinding-dindingnya yang terbuat dari susunan jendela krepyak, yang merupakan karakter khas rumah-rumah indis di Indonesia sekitar abad ke-19 sampai awal abad ke-20.

Berhadap-hadapan dengan garis-garis krepyak yang menyelubungi ruang restoran ini—mulai dari dinding hingga langit-langit—mural karya Eko yang bergaris organis secara bentuk melunakkan garis yang tegas, tapi di sisi lain juga mendukung secara “rasa”. Karena meski berbau dreamy dan surreal, gaya Eko menyiratkan pula aura vintage. Karakter karya Eko yang kontemporer tapi berbasis tradisi juga—walaupun tidak sengaja dimaksudkan untuk serasi—melebur dengan kisi-kisi kayu yang terkesan vernakular. “Invasi Ruang itu judul muralnya, dan saya memang betul-betul menginvasi restoran itu melalui fantasi visual saya. Saya berharap pengunjung restoran menikmati atmosfer restoran beserta mural saya,” pungkas Eko.