Mohammad Danisworo - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

Mohammad Danisworo

Lebih dari empat dekade, urban planner Mohammad Danisworo menjembatani desainer dan para pengambil keputusan di area yang ia sebut sebagai tabrakan idealisme dan realisme



BY Editor

17 September, 2014


Profesi arsitek berada di daerah tabrakan antara idealisme dan realisme. Itu yang Mo- hammad Danisworo sadari ketika lulus dari jurusan arsitektur. “Saya juga sadar bahwa peran saya sebagai arsitek sangat-sangat kecil pada produk akhir, dan produk akhir yang berupa bangunan itu juga pengaruhnya terbatas dalam kehidupan lingkungannya,” kenangnya.

Mohammad Danisworo dilahirkan di Semarang, 2 April 1938. Gelar sarjana diraihnya dari Institut Teknologi Bandung tahun 1965. Selepas ITB, Danisworo mengambil gelar master di University of California, Amerika Serikat, tahun 1966. Pulang ke Indonesia tahun 1970-an, ia menjadi pengajar di ITB sekaligus membangun kariernya bersama perusahaan Encona Engineering. Untuk memperdalam ilmunya di bidang perencanaan kota, ia mengambil satu lagi gelar master (beserta Urban Design Certificate) dalam Urban Planning di University of Washington tahun 1982.

Bermula dari kerja sama bersama kolega yang berkarier di jajaran pemerintahan, hingga saat ini ia masih aktif menjabat sebagai anggota senior Tim Penasihat Arsitektur Kota. “Yang saya kagumi dari Pak Danisworo ialah kemampuannya untuk dapat masuk ke dalam pemerintahan dam memengaruhi proses decision-making,” ujar Sibarani Sofian, regional Director AECoM Asia Tenggara yang dahulu menjadi mahasiswa bimbingan Danisworo di ITB.

Mohammad Danisworo 2

Memang Danisworo berperan signifikan dalam menjembatani pihak pemerintah dengan owner dan property developer di banyak kawasan padat di Jakarta. Sebut saja kawasan niaga Thamrin sekitar Bundaran HI. Negosiasi pembangunan trotoar yang lebar untuk pejalan kaki yang ada saat ini memakan waktu hampir hingga lima belas tahun dengan ‘win-win solution’ yang dicapai dengan ‘meminjam’ tepian lahan milik swasta sebagai investasi ruang publik dengan timbal balik be- berapa privilege dari pemerintah semisal pengurangan pajak. Pekerjaan yang panjang, melelahkan, dan jasanya tidak dapat diklaim atas usaha sendiri saja seperti lazimnya bangunan arsitektur tunggal

Mohammad Danisworo 1

Beberapa karya Dansiworo yang signifikan antara lain kawasan Bandara ngurah rai, kawasan Stasiun Gambir dan Monas, serta kawasan bekas Lapangan Udara Kemayoran di Jakarta Pusat. Kawasan Kemayoran ini direncanakan agar menyejahterakan penduduknya, baik yang bekerja di sektor formal maupun informal, baik pengendara kendaraan bermotor maupun pejalan kaki dengan jarak antargedung yang lega, point of interest yang diberi interval serta trotoar selebar 10 m yang teduh ditanami pohon.

Teks: Asih Jenie Fotografi: Leonard Kawun

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Mohammad Danisworo selengkapnya dapat disimak dalam Indesign Indonesia Vol. 02 2012. Untuk berlangganan atau membeli back issue dapat mengirimkan email ke indesign.indonesia@mpgmedia.co.id.