Integritas Brand di Dunia yang Global - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Integritas Brand di Dunia yang Global

Siklus rilis produk tahunan di dunia desain dapat menjadi distraksi yang mengganggu kepentingan brand DNA yang abadi. Louis Poulsen dengan konsisten mendemonstrasikan nilai integritas brand dengan katalog yang dikembangkan dengan hati-hati dari fondasi yang kuat.



BY Editor

30 January, 2018


Menjelajahi hall demi hall trade fair desain produk internasional dan kemungkinan besar setelah bertahun-tahun akan menumbuhkan suatu peta pemikiran. Ini bukan sebuah peta yang menunjukkan ruang, namun ini merupakan sebuah barometer akan kelanggengan dan kesementaraan – sebuah indera perasa yang dapat memperkirakan brand mana saja yang mengikuti ritme siklus mode di dunia interior yang semakin cepat, dan brand mana saja yang membuka jalan mereka sendiri dengan eksplorasi lebih mendalam yang berkaitan dengan pengalaman manusia.

Brand-brand jenis terakhir inilah yang memiliki peran paling berpengaruh dalam membentuk cara hidup kita, karena merekalah yang berinovasi dengan penuh tujuan dan integritas kreatif. Merekalah brand yang tidak terpengaruh trend, abadi, dan memiliki relevansi yang mendalam. Tak perlu dipertanyakan lagi bahwa Louis Poulsen adalah salah satu dari brand ini.

Yang menjadi jantung hati relevansi Louis Poulsen adalah sebuah brand DNA yang pertama kali ditetapkan di tahun 1920an.

‘Design to shape light’  atau desain untuk membentuk cahaya adalah filosofi yang bertahan berdekade-dekade lamanya sejak dicetuskan oleh Poul Henningsen dengan PH. sebuah lampu inovatif anti silau. Faktanya, sebagian besar dari para arsitek dan desainer yang berkolaborasi dengan Louis Poulsen memberikan perhatian yang sama terhadap atmosfir yang diciptakan oleh sebuah lampu dan kualitas fuungsionalnya. Louis Poulsen senantiasa bekerja dengan filosofi fungsi, kenyamanan dan atmosfir yang yang berfokus pada manusia. Tiap-tiap produknya bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara desain dan cahaya.

Ini adalah DNA yang kuat dengan integritas yang senantiasa dipertahankan tanpa pandang waktu dan tempat dimana para desainer Louis Poulsen bekerja.

Brand DNA ini dapat diterjemahkan melintasi waktu, tempat, dan budaya karena ia berfokus pada kualitas pengalaman manusia dan kenikmatan desain yang berarti – bukan sekedar trend yang akan memudar seiring bergantinya musim. Bentuk-bentuk yang memukau dipahat untuk menghasilkan transisi terang dan gelap yang lembut – area terang berganti dengan nyaman ke area teduh – dan untuk memastikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus fungsi yang baik.

Bagaimana para desainer dengan latar belakang beragam menginterpretasikan dan mengekspresikan esensi brand ini? Dengan berbagai cara tentunya, namun selalu dengan cerita yang memiliki jiwa asalnya. Mari kita lihat contoh-contohnya.

 

PH Lamp oleh Poul Henningsen (1920an)

Lampu ini merupakan desain skulptural tiga-kap anti silau yang telah menjadi sangat penting untuk brand Louis Poulsen. Sebuah paduan bentuk dan fungsi yang elegan dimana tiap detailnya memiliki tujuan untuk membentuk pengalaman pencahayaan. Kurva-kurva kap lampu ini berdasar pada spiral logaritma yang mendistribusikan cahaya dengan rata pada permukaan dalam lampu dan menyembunyikan bohlam dari pandangan mata.

 

VL38 oleh Vilhelm Lauritzen (akhir 1930an)

Sebuah bentuk skulptural yang sangat rasional yang mempersembahkan sebuah pengalaman pencahayaan yang menyenangkan bagi indera manusia. Kap lampu aluminiumnya dibuat dengan tangan dan dibentuk dengan kurva yang peka terhadap bentuk manusia, dan dicat putih pada bagian dalamnya untuk menghasilkan cahaya yang lebih lembut dan nyaman. Daya tariknya yang abadi membuat lampu ini dirilis kembali dalam versi baru yang berwarna hitam.

 

AJ oleh Arne Jacobsen (1957)

Didesain untuk Hotel SAS Royal di Kopenhagen, lampu AJ menjadi salah satu lamput karya Arne Jacobsen yang paling terkenal di dunia. Kap skulpturalnya terdiri dari dua bentukan geometri yang kuat – silinder (soket) dan kerucut (kap) – yang dipadukan menjadi permainan sudut yang memukau. Cahaya dikumpulkan dimana ia dibutuhkan. AJ dirilis kembali dengan warna-warna baru tahun lalu.

 

PH Artichoke oleh Poul Henningsen (1958)

Membaurkan cahaya tanpa silau. Sebuah siluet desain modern yang terinspirasi oleh alam yang tetap menarik meski didesain di tahun 1958 untuk restoran Langelinie Pavillonen di Kopenhagen. Versi baja nirkarat poles dirilis tahun 2016 (yang menambah opsi material yang terdiri dari tembaga, logam sepuh putih dan baja sapuan) setelah melalui proses percobaan yang panjang untuk memastikan pengalaman PH Artichoke yang sejati.

 

Panthella oleh Verner Panton (1971)

Baru-baru ini dirilis dengan versi mini yang terbuat dari metal (dengan banyak pilihan warna yang khas Panton), Phantella merupakan expressi ketertarikan Verner Panton terhadap bentuk-bentuk bukan yang akan kita kenal dengan sebutan ‘desain organik’. Kap akriliknya yang menciptakan penerangan yang lembut dan nyaman, sementara cahaya diarahkan ke bawah, bahan lampu ini memastikan distribusi cahaya yang lembut di dalam ruangan. Bentuk setengah bola yang ikonik ini dipadukan dengan seimbang oleh kaki berbentuk terompet yang menarik.

 

Collage oleh Louise Campbell (2005)

Cahaya diarahkan ke bawah sementara tiga lapis laser-cut akrilik mencegah silau. Tiap lapisan memiliki pola yang berbeda, yang menciptakan persepsi cahaya dan bayangan yang berbeda tergantung dari sudut pandang yang melihat. Campbell mengekspresikan inspirasi dari alam (lebih tepatnya, dari cahaya yang menembus  kanopi hutan) bukan hanya dengan indahnya, namun juga dengan menciptakan atmosfir yang krusial untuk sebuah pengalaman cahaya khas Louis Poulsen.

 

Patera oleh Øivind Slaatto (2015)

Seperti PHPatera terinspirasi oleh logika matematika di alam – dalam hal ini sekuens Fibonacci. Patera memiliki bentuk yang khas yang menyeimbangkan simetri dan asimetri. Sel-sel yang berbentuk wajik (yang tercipta oleh PVC strip yang saling menyilang) menangkap cahaya dan mengarahkannya dengan lembut ke atas dan bawah.

 

 

NJP Lamp oleh Nendo (2015-2016)

Oki Sato, pendiri desain studio nendo, mendesain NJP dengan maksud untuk memproduksi interpretasi baru dari lampu anglepoise klasik, dengan fungsi-fungsi yang diadaptasi ke lingkungan kerja modern (baik di kantor maupun di tumah). Lampu LEDnya dapat memancarkan cahaya dengan dua jenis intensitas: satu untuk pencahayaan berpusat dan satu lagi untuk cahaya ambien temaram untuk lounge dan kamar tidur – atau untuk membaca teks yang tertulis atau dokumen digital.