Louis Poulsen Limited Edition | Indesignlive IndonesiaIndesignlive.co.id

Desain Sebagai Budaya: Karya Limited Edition Klasik dari Louis Poulsen

Apa yang desain klasik hadirkan pada hidup kita? Edisi kolektor spesial dari lampu PH 3½-3 lamp menunjukkan bagaimana nilai kultural dari kualitas design, relevansi dan resonansinya dengan manusia.



BY Editor

5 December, 2017


Butuh waktu bagi sebuah desain untuk dapat disebut ‘klasik’, namun begitu ia mendaptkan status ini, hilanglah sudah konsep waktu yang melekat padanya. Sebuah desain yang klasik akan selalu terlihat kekinian, relevan dan bernilai di era manapun ia berada. Desain ini menawarkan ekspresi yang kekal dan telah menjadi sebuah artefak budaya – yang melebihi status sekedar sebuah produk untuk konsumsi.

Nilai budaya inilah yang memberikan kekalan pada sebuah desain.

Desain klasik adalah sebuah pernyataan akan esensi perbendaan, ia memperlihatkan sebuah bahasa desain lintas budaya yang dapat langsung dimengerti. Karakter mereka yang dapat dengan mudah dikenali dan dibaca berasal dari otensitas mereka, dimana fungsi san bahasa desain berpadu dengan sempurna.

Contoh ideal dari penguasaan esensi desain klasik ini terdapat pada sosok Poul Henningsen – desainer asal Denmark dibalik banyak dari produk lampu Louis Poulsen yang paling terkenal. Contohnya saja PH Artichoke, yang sudah tidak perlu diperkenalkan lagi. Bentuk daun-daun tembaga dan baja nirkarat berpendar yang tersusun dengan apik menciptakan bentuk berpendar yang unik dan lingkungan yang atmosferik.

Dan sama terkenal dan digandrungi adalah koleksi lampu gantung PH karya Henningsen – yang merupakan turunan dari lampu dengan kap susun tiga yang bebas silau yang ia temukan lantaran penasaran akan silaunya bohlam lampu. Keluarga lampu PH merupakan perwujudan pendekatan ilmiah Henningsen terhadap cahaya. Ia menggunakan spiral dari cangkang nautilus atau set Mandelbrot untuk bentukan kurvatur kap lampu bersusun yang mengarahkan pantulan cahaya (namun tanpa silau) ke bawah. Dewasa ini, sangat susah untuk percaya bahwa sistem susun tiga ini didesain tahun 1926.

 

louis poulsen

Pada tahun 1920an, edisi khusus lampu PHI diluncurkan dengan kaca berwarna. Louis Poulsen juga bereksperimen dengan sistem gantung yang terbuat dari kuningan, dan salah satu kombinasi paling menarik yang dihasilkan adalah kombinasi kaca warna damar (amber). Kombinasi apik ini diluncurkan tahun 1927. Kini, tahun 2017,varian ini tersedia lagi dalam waktu yang terbatas.

Hingga 28 Februari, Louis Poulsen menawarkan edisi terbatas lampu PH 3½-3 lamp di Asia Pasifik (kecuali Jepang) dengan kombinasi kuningan dan kaca amber ini sebagai collector’s item.

Tiap lampu dibuat dengan tangan, jadi tiap lampu memiliki keunikan tersendiro dari variasi teknik dan materialnya. Ketika dinyalakan, lampu PH 3½-3 edisi terbatas ini akan memancarkan cahaya hangat yang mengundang. Ketika dipadamkan, permukaan kaca yang mengkilap akan memantulkan lingkungan sekitarnya untuk menyatukan lampu pada konteksnya. Lampu ini adalah tambaha langka pada koleksi Louis poulsen yang didominasi oleh kap yang terbuat dari kaca opal, aluminium dan baja nirkarat – sebuah interpretasi lama, namun juga baru terhadap sebuah desain yang klasik dan produk yang patut dihargai.