ONCE UPON A TIME - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

ONCE UPON A TIME

Selayaknya menara suar menarik kapal, Kalbis Institute menggugah atensi lewat transparansi desain fasadE yang menyorot dinamika pembelajaran di dalamnya



BY Editor

17 March, 2015


Kisah ini dimulai sejak tahun 1995, saat EtonHouse pertama kali didirikan di Broadrick Raod, Singapura. Semenjak itu, filosofi untuk pengembangan holistik anak dalam lingkungan yang menyenangkan, nyaman, dan aman tidak pernah berubah. Jaringan EtonHouse yang telah berkembang di negara-negara Asia, seperti Cina, India, Korea, Jepang, Malaysia, Kamboja, Vietnam, Hong Kong, Myanmar, dan Timur Tengah dengan mengoperasikan lebih dari 100 sekolah ini kemudian beroperasi di Indonesia, tepatnya pada 2008 lalu di Jakarta.

Dan di tahun 2014 ini, cabang sekolah EtonHouse terbaru dibuka di Surabaya, tepatnya dalam kawasan kota mandiri Citraland, Surabaya, salah satu kawasan elite di Ibu Kota Jawa Timur ini. Lokasi ini dipilih karena selain kondusif untuk proses belajar, Citraland telah dilengkapi dengan fasilitas dan infrastruktur modern, selain efisien dan dikelola dengan baik.

Membutuhkan total waktu sekitar tiga tahun bagi Ivan Priatman dan tim proyek dari PT Archimetric untuk menyusun konsep desain dan menyelesaikan proses konstruksi EtonHouse Surabaya. EtonHouse sekaligus menjadi proyek sekolah taman kanak-kanak pertama bagi PT Archimetric.

ETON HOUSE 2

Bab baru mengenai proses desain pun dimulai. Lahan seluas 900 m2 dan menyisakan kurang dari 70% untuk bangunan menjadi tantangan pertama karena kebutuhan ruang yang cukup besar. Ditambah arah hadap lahan ke sisi barat yang membuatnya tidak menguntungkan. “Riset membuktikan bahwa ruang kelas dengan pencahayaan alami yang baik memiliki dampak positif pada produktivitas siswa. Ruangruang kelas sebaiknya menghadap ke arah utara dan selatan,” jelasnya Ivan Priatman, Prinsipal Desain PT Archimetric untuk proyek EtonHouse. Oleh karenanya, massa utama bangunan yang berisi ruangruang kelas kemudian diputar 90 derajat, sedangkan sisi barat diletakkan ramp penghubung ketiga lantai bangunan sebagai penghalang sinar matahari sore dan menghasilkan sebuah courtyard yang terlindungi. Bangunan tak lagi berorientasi ke luar melainkan ke dalam dan tercipta iklim mikro dengan kenyamanan termal yang sesuai.

Tantangan selanjutnya adalah keinginan klien untuk membangun sebuah gedung sekolah yang memiliki kenyamanan layaknya sebuah rumah, baik bagi sang anak sebagai murid maupun orangtua, di samping aspek teknis lain seperti sirkulasi dan keamanan.

“Kami memikirkan bangunan ini sebagai tempat eksplorasi, mengakomodasi keingintahuan dan entusiasme, memupuk kreativitas anak. Kami menyebutnya dengan konsep storytelling. Sebuah sequential experience,” ucap Ivan.

Dimulai dari area penerimaan dan living room, yang dikelilingi ruang baca, ruang seni (atelier), aula serbaguna, dan courtyard sebagai area bermain. Orang tua dapat menyimak kegiatan anak dan merasa terlibat dalam aktivitas belajar anak.

Terdapat sebuah pintu dan ramp untuk menuju ke ruang baca yang terletak setengah di dalam tanah. Dari living room yang sama, murid dapat keluar ke area bermain atau turun melalui tangga, melewati jalan setapak sempit, melewati bawah ramp untuk menemukan area kolam renang yang cukup tersembunyi.

ETON HOUSE 3

Ruang-ruang kelas berada di lantai 2 dan 3, yang dicapai melalui sebuah ramp di sebelah kiri pintu masuk utama. Menaiki ramp, anak-anak dapat mengintip kolam renang, melihat area bermain di bawah, taman atap, dan bagian utama bangunan berjendela persegi dan persegi panjang melalui sebuah jendela horizontal. Jendela-jendela ini ditata rapi, sebagian datar dan sebagian menonjol, dan berusaha bermain dengan ukuran, komposisi, tipe bukaan, dan kejutan merah di dasar dinding berwarna putih. Melanjutkan perjalanan, mereka akan tiba di sebuah koridor sebagai galeri karya, tempat memajang karya-karya seni murid, yang diapit oleh ruang-ruang kelas. Arsitek meletakkan sebuah pintu “misteri” di ujung koridor dengan kejutan sebuah taman atap di baliknya.

Di taman atap ini para murid akan belajar bertanam dan kegiatan outdoor lainnya. Pemandangan seluruh massa bangunan termasuk jalan setapak, baik di dalam maupun di luar, di atas maupun di bawah, yang tersembunyi maupun terekspos, dapat dinikmati sembari beristirahat di salah satu bangku.

Serangkaian jalan setapak, tangga, ramp, dan koridor difungsikan sebagai media untuk menceritakan semua fasilitas yang tersedia, selain dianggap sebagai alat transportasi vertikal yang paling aman untuk anak-anak yang sedang belajar berjalan. Bentuk-bentuk dasar yang nampak pada fasade, langit-langit lobi dan koridor, seperti persegi empat dan lingkaran, pun dipilih karena bentuk-bentuk tersebut mudah dikenali dan akrab dengan anak.

Warna-warna natural dipilih dan diselingi kejutan warna merah sebagai identitas bangunan. Tak ada metafora di balik massa bangunan. Ia murni hasil dari respons terhadap lahan dan aktivitas, dan menjadi bagian penting dari sebuah kegiatan “bercerita”.

Narasi ini kemudian ditutup Ivan dengan sebuah penyataan: “Kami merancang sebuah pengalaman bukan sebuah gedung. Kami merancang sebuah cerita, bukan sebuah objek.”

Bernadetta Tya adalah Writer Indesign Indonesia.