Scholastic Translation - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Scholastic Translation

Mutiara Nusantara In ternational School (MNIS), Bandung, mewakili aspirasi sebuah institusi akademik melalui pertimb angan kontekstual dan arsitektural



BY Editor

17 March, 2015


Menjalani era globalisasi datang dengan tuntutan-tuntutan tersendiri pada beberapa bidang, salah satunya pendidikan. Kurikulum sekolah dirancang secara khusus untuk mempersiapkan siswa-siswinya menempuh hidup di dunia yang kian terbuka pada keragaman dan kerja sama antarnegara, baik di bidang ekonomi, politik, hingga turisme. Pendidikan dasar yang berperan membentuk karakter dan keahlian seseorang sejak dini kemudian menjadi aspek yang dikembangkan oleh masyarakat umum. Pembangunan sekolah secara positif kian marak ditemukan, masing-masing menawarkan konsep pembelajaran yang menjawab tuntutan global pada generasi-generasi baru.

Tidak hanya memperhatikan konteks edukasi global yang dapat diberikan, sekolah-sekolah di dalam negeri, khususnya sekolah swasta dewasa ini, turut mengedepankan faktor lingkungan yang melingkupi kegiatan pembelajaran itu sendiri. Bangunan sekolah menjadi titik fokus pengembangan karena berfungsi sebagai sarana utama yang menaungi aktivitasaktivitas siswa di dalamnya. Hal ini yang kemudian melandasi kerja sama antara Yayasan Mutiara Nasional dengan biro arsitektur Aboday, dalam proyek renovasi Mutiara Nusantara International School (MNIS) di Bandung.

MNIS merupakan institusi pendidikan bertaraf internasional untuk tingkat Kindergarten (TK), Elementary School (SD), hingga Secondary School (SMP), dan Junior College (SMA) yang berlokasi di Bandung. Konsep untuk setiap jenjang pendidikan (grade) adalah ditempatkan secara terpisah pada lantai yang berbeda. Bahan pertimbangan yang mendasarinya adalah untuk mengantisipasi isu bullying yang umum ditemukan pada lembaga-lembaga pendidikan dasar di dalam negeri. Pembedaan lokasi berdasarkan lantai maka dinilai mampu meminimalisir kemungkinan terjadinya praktik isu tersebut. Jenjang Taman Kanak- Kanak diletakkan pada lantai dasar, bersama dengan area kantin dan ruang yayasan sekolah, dengan akses masuk dan keluar yang terpisah melalui sisi bangunan utama, sementara Sekolah Dasar mengambil tempat pada lantai 1 bangunan, dan SMP maupun SMA mengambil lokasi pada lantai 2, yang menyisakan lantai 3 untuk diisi ruang pertemuan yang dapat merangkap sebagai fasilitas olahraga indoor, serta ruang-ruang laboratorium.

Terlepas dari pemisahan ini, penentuan lokasi drop off dan penjemputan diletakkan pada satu titik yang sama dengan mempertimbangkan segi keamanan siswa. “Anak-anak yang turun dari mobil akan dibawa melalui tangga utama hingga nantinya bertemu di lobi utama,” ungkap Ary Indra selaku principal architect dari Aboday, “di lobby utama inilah semua jenjang kelas bisa bersosialisasi sebelum menaiki ramp untuk menuju kelasnya masing-masing.”

Berperan sebagai penghubung antarruang, fitur ramp pada bangunan sekolah ini juga dapat digunakan sebagai area sirkulasi utama. “Selain berfungsi sebagai main circulation, pemanfaatan akses ramp ini dapat meningkatkan kesehatan terutama dibandingkan dengan pemakaian tangga karena saat menaiki tangga, lutut anak-anak akan menahan dua kali beban tubuh mereka,” jelas Ary.

Dilihat secara keseluruhan, bangunan sekolah mengambil dua bentuk geometris yang distingtif sebagai desain utama fasade, salah satu berbentuk persegi dan berfungsi sebagai lobi, yang lainnya menerapkan desain melengkung dan mengakomodasikegiatan utama sekolah. Bentuk bangunan yang melengkung ini didasari pertimbangan tim arsitek akan konsep art deco yang menjadi ciri khas Kota Bandung. Inspirasi art deco yang d ibubuhi sentuhan modern ini kemudian berperan selain untuk mewakili identitas Bandung, juga memperlihatkan perbandingan proporsi fasade. Konsep desain fasade juga menyertakan kerawang agar bangunan lobi dan ramp tidak lagi memerlukan AC, namun tetap memiliki perputaran udara yang baik di sepanjang area.

MUTIARA 2

Pada proses konsepsi desain, yayasan sekolah mengutarakan rencana jangka panjang untuk memperluas bangunan sekolah, dan untuk memfasilitasi harapan ini, pihak arsitek menyediakan lokasi dan rancangan konsep bagi bangunan tambahan yang akan dihubungkan dengan bangunan persegi. Rencana perluasan itu sendiri dipersiapkan oleh tim arsitek untuk dieksekusi pada area belakang bangunan lobi.

Aspek lain yang menjadi prioritas dalam konsepsi desain adalah penyediaan green area pada bangunan sekolah. Bentuk awal sekolah selama periode 8 tahun adalah berupa gedung sewa yang memiliki hamparan rumput yang luas. “Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami untuk membuat pemgguna dari sekolah ini menemukan kenyamanan yang sama seperti yang mereka dapatkan di gedung lama,” papar Ary. Tim arsitek kemudian menghadirkan hamparan rumput pada setiap lantai bangunan sekolah, dengan tujuan memberi lahan kepada para siswa dan siswi untuk aktivitas outdoor yang kasual. “Setiap lantai memiliki outdoor garden yang dapat digunakan anak-anak untuk berkumpul selama jam istirahat,” jelas Ary.

Masih mengedepankan elemen alam ke dalam desain, tim arsitek memanfaatkan lokasi sekolah yang dilintasi sungai, untuk menghadirkan ambience yang dekat dengan alam. Sungai yang melintasi area tengah site ini didesain untuk hadir ke dalam bangunan nsehingga orang-orang yang sedang duduk di kantin atau melintasi ramp dapat mendengarkan gemericik air sungai.

Dalam pembangunan sebuah fasilitas sosial, khususnya institusi pendidikan, pendekatan secara arsitektural mampu menghasilkan ruang dan bangunan yang secara efektif memfasilitasi aktivitas di dalamnya, akan tetapi pendekatan kontekstuallah yang mampu menjawab aspirasi pelaku kegiatan di dalamnya, yaitu para siswa dan guru. Dengan penyusunan konsep desain yang beriorientasi pada kesejahteraan manusia, proyek arsitektural akan mampu mencapai potensi optimal saat bekerja, hal yang sama menjadi landasan ideologi Ary. “Bentuk yang terjadi di gedung bangunan MNIS ini bukan semata-mata ekspresi bentuk, tetapi keinginan untuk memberi sentuhan yang lebih ramah, imajinatif, dan terhubung secara personal dengan manusia penggunanya.”

Anindia Karlinda adalah Writer Indesign Indonesia