Eko Prawoto - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

Eko Prawoto

Eko berpendapat bahwa green design adalah suatu perangkat yang ‘dipaksakan’ oleh negara yang lebih maju.



BY Editor

12 June, 2014


Eko berpendapat bahwa green design adalah suatu perangkat yang ‘dipaksakan’ oleh negara yang lebih maju.Sebuah pernyataan yang cukup skeptis bagi seorang arsitek yang sangat dikenal dengan karya-karyanya yang membumi.

Dia kemudian menjelaskan maksud pernyataannya, “Aspek budaya itu sangat penting karena di situ sumber nilai-nilai. Akar pemahaman tentang sustainability sudah built-in dalam budaya itu. Indonesia dan ragam budayanya yang kaya mengajarkan banyak tentang hal itu. Namun, pada saat yang sama, budaya tersebut berangsur-angsur menghilang.

Eko Prawoto 1

“Sustainability bukan pada tampilan akhir tetapi lebih pada bagaimana menghargai alam,” jelas arsitek prinsipal Eko Prawoto Architecture workshop kemudian. Bagi Eko, komunitas tradisional lebih memahami istilah itu daripada masyarakat modern karena mereka lebih sadar akan batas. Salah satu keprihatinannya adalah komersialisasi alam dalam dunia bisnis dan industri dan menggunakan kata-kata kunci seperti ‘sustainability’ sebagai sebuah formula jitu pendongkrak penjualan.

Bagi Eko Prawoto, itulah yang harus dikritisi.“Itu tidak sepenuhnya salah sejauh kita tahu batas. Tidak mungkin kita memasarkan bahan-bahan di tempat yang jelas-jelas memproduksinya.” Pertanyaan menggelitik yang kemudian muncul ialah seperti apa seharusnya arsitektur Indonesia? “Harus memikirkan tentang impact. Jadi, semua tindakan harus dipikirkan dampak luasnya apa, bukan memikirkan karyanya sendiri.”