Johan silas - Indesignlive.co.idIndesignlive.co.id

Follow our Titles!

SUBSCRIBE

Johan silas

Kampung menurutnya adalah bagian penting dari kota-kota di Indonesia yang seharusnya diakui keberadaannya.



BY Editor

15 April, 2014


Mendengarkan Profesor Johan Silas menceritakan bagaimana Kota Surabaya membangun dan mengembangkan potensi dari kampungkampung yang ada akan menyadarkan kita bahwa hal-hal yang tadinya dianggap kuno dan “kampung”, ternyata justru memiliki DNA karakter budaya kota yang sesungguhnya. Beliau menjelaskan bagaimana kampung di Surabaya diakui keberadaannya, bukan menjadi daerah kelas dua yang bisa sewaktu-waktu digusur dan diubah penggunaannya menjadi bangunan tingkat tinggi atau pusat perbelanjaan.

JOHAN SILAS 2

Sebagai kota, Surabaya memang tumbuh menjadi metropolitan yang dewasa dan bijak menjejakkan langkah pembangunannya. Suasana kampung dipertahankan bukan hanya karena memberikan kota karakter pada ruang-ruangnya, tetapi juga mewujudkan lingkungan yang familier sehingga kota lebih dekat dengan penduduknya. “Kota itu mestinya memiliki ciri untuk menjadi eksis,” Johan Silas menambahkan. Kota juga peruntukannya tidak hanya untuk golongan masyarakat tertentu saja, pembangunan gedung-gedung juga harus lebih sensitif melihat perannya sebagai bagian dari kota. Bagaimana hubungan mereka dengan masyarakat lapisan bawah. Hubungan yang positif tentunya mendukung sistem interaksi yang baik sehingga perekonomian juga berjalan dengan baik.

“Kota itu dimulai dari kampung. Di sanalah tersimpan sejarah, ritual, dan budaya,” jelasnya. Johan Silas memang salah satu dari sedikit orang yang menyadari bahwa kota itu sudah seharusnya dijalankan oleh masyarakat. Bagaimana penduduk kota bisa menambahkan banyak hal positif ke dalam kehidupannya merupakan mekanisme kota yang merakyat. Di Kota Surabaya kampung-kampungnya diakui eksistensinya dan diperbaiki secara infrastruktur dan sistem pendukungnya. Meskipun jalannya sempit tetapi masih bisa dimasuki ambulans. Di sisi lain, penduduknya bisa memiliki pendidikan yang tinggi. Dengan bangga beliau menyampaikan bahwa Surabaya sampai menghabiskan 300 juta untuk subsidi pendidikan. Di sinilah kunci meningkatnya apresiasi warga kota terhadap tatanan lingkungannya. Kampung kemudian memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik secara ekonomi dan juga menjadi elemen penentu perekonomian kota.

JOHAN SILAS 3

Sebagai salah satu pendiri Arsitektur ITS Surabaya, beliau sudah memiliki bayangan bahwa lulusan dari institusi yang akan dibangunnya ini bakal menjadi orang penting yang membanggakan. Sebut saja nama Risma Trihartini, wali kota Surabaya yang sedang banyak diperbincangkan, begitu juga beberapa alumnus yang mendapatkan beasiswa bergengsi ke luar negeri. Fakta-fakta inilah yang membuat Johan Silas menjadi semakin semangat untuk membagikan ilmunya dan juga menggugah hati para murid muridnya untuk peduli kepada lingkungan. Konsistensi dan persistensi untuk mengulik dan mencari tahu lebih dalam juga diteruskan kepada murid-muridnya.

Di sisi lain kehidupan akademisi, Johan Silas dipercaya oleh berbagai badan setingkat nasional dan regional seperti Asian Developement Bank untuk berbagai proyek revitalisasi atau perencanaan pemukiman di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya adalah Aceh dan Nias pascatsunami. Banyaknya rumah-rumah yang hilang dan rusak diterjang tsunami sehingga membutuhkan upaya relokasi atau membangun kembali kampung yang dahulunya ada.

JOHAN SILAS 4

Sebagai seorang profesor, Johan Silas melihat konsep kampung sebagai hal yang sangat penting dengan berbagai macam teori pendekatan yang bisa diaplikasikan. Namun, semangatnya untuk mengenal lebih dekat, tahu lebih dalam tentang sebuah daerah dan komunitas kampung membuatnya terjun langsung, berdialog, dan melalukan riset yang mendalam tentang budaya, ritual, simbol, dan simbol tradisional. Pemukiman yang mendapatkan sentuhan ide dan pemikirannya bisa dipastikan memiliki tatanan yang mendekati aktivitas penduduknya. Semacam tuntutan untuk memenuhi fungsi-fungsi dari pemukiman yang dirancangnya. Semangatnya untuk menemukan karakter sebuah pemukiman yang sesuai dengan penduduknya membuahkan respons positif.

Di Pulau Nias Johan Silas mendapatkan kedudukan tradisional yang mencerminkan betapa dekatnya dia dengan masyarakat. Melalui perencanaannya, rekonstruksi pemukiman di Nias tidak hanya memberikan kembali rumah tinggal bagi keluarga yang kehilangan rumahnya tetapi Prof. Johan Silas berhasil mengha dirkan kembali karakter-karakter lokal yang membuat mereka merasakan dekat dan familier dengan desain pemukiman yang baru.

Merekonstruksi pemukiman memang tidak pernah sederhana baginya. Semua harus bisa dibantu dan mampu menghadirkan akses yang mewadahi. Bukan berarti tutup mata dengan menghadirkan rumahrumah yang setipe saja, tapi pemikiran tentang kampong ekologi, ruang terbuka, pengelolaan sampah, dan lain-lain harus juga dipikirkan. Prof. Johan Silas bahkan melakukan riset mendalam tentang pola tradisional yang dekat dengan masyarakat dan merepresentasikan budaya pada proyeknya di Aceh.

Ketertarikannya pada sejarah dan filsafat sedikit banyak juga membuatnya khawatir tentang nasib cerita dan dongeng rakyat. Masyarakat masa kini rupanya lebih tertarik pada cerita dan dongeng dari luar negeri, sementara yang di dalam negeri terlupakan. Dongeng itu sendiri tidak bisa lepas dari konteks kampung yang menjadi cikal bakal kota. Seperti Kota Surabaya yang sangat sedikit dituliskan oleh Belanda, tetapi memiliki banyak dongeng yang patut dilestarikan. Menurutnya, sering kali arsitek atau desainer harus meletakkan satu kaki di masa depan, dan satu kaki di budaya trandisional. Namun, harus dengan gigih menemukan pertemuan antara dua hal tersebut tanpa harus melupakan atau meniadakan karakter yang ada. Prof. Johan Silas sudah terlibat dalam perencanaan kota di berbagai daerah di Indonesia, tetapi dia selalu berupaya melibatkan masyarakat agar penduduk hunian yang dirancangnya ikut merasa memiliki bangunan dan lingkungan pemukiman yang ditatanya. Sebuah kepuasan secara professional bagi Johan Silas adalah ketika telah berlalu beberapa tahun, masyarakat masiH memberikannya sambutan hangat ketika dia berkunjung.

Lab. Pemukiman ITS Surabaya
(62) 31 592 4301